Review OWK Homestay Wonosobo

papan petunjuk OWK homestay di pinggir jalan

papan petunjuk OWK homestay di pinggir jalan

Lebaran kali ini karena satu dan lain hal, gw sekeluarga tidak menginap di rumah saudara saat mudik ke Wonosobo. Ini pertama kalinya buat gw. Biasanya kalau pulang ke Wonosobo gw tinggal pilih mau tidur di rumah mana. Rumah simbah, bude, bulik, semuanya terbuka untuk keluarga gw, tinggal pilih .

Tahun ini kami mencoba menginap di salah satu homestay di Wonosobo, namanya OWK Homestay. Letaknya tidak jauh dari alun-alun Wonosobo.

OWK Homestay ini memiliki dua rumah yang disewakan. Kami mendapat Homestay 2, dengan fasilitas tiga kamar tidur, ruang tamu, tv, kamar mandi dengan toilet jongkok yang juga dilengkapi dengan water heater, dapur lengkap dengan kompor, peralatan masak dan makan, serta terdapat mesin cuci. Dua kamarnya diisi masing-masing dua single bed, dan satu kamar diisi double bed. Hawa di Wonosobo sangat dingin baik siang maupun malam, sehingga tidak memerlukan AC.

20150721_070751

kamar twin bed

20150721_071028_LLS

kamar double bed

20150721_070924_LLS

kamar mandi & wc

20150721_070820

dapur

Kondisi rumah yang kami tempati masih baru dan cukup bersih. Info dari mas Harjo, pemilik homestay tersebut, rumah yang kami tempati memang baru tiga bulan dibuka sebagai homestay. Lumayaaan…nyobain homestay baru, belom banyak yang pakai. Saat kami menginap disana, karyawan homestay masih libur semua, jadi mas Harjo dan keluarganya sendiri yang menyambut dan menyiapkan segala sesuatunya untuk kami.

homestay tampak depan

homestay tampak depan

pemandangan dari teras homestay

pemandangan dari teras homestay

Rumah kami dikelilingi kebun dengan bermacam tanaman, entah tanaman apa saja, yang gw kenali hanya tanaman cabai dan kol. Di depan rumah terdapat gazebo dan kolam ikan. Ada juga warung kopi kecil dengan area duduk di bawah dan di rooftop. Karena karyawannya masih mudik, warung kopinya tutup selama kami disana. Untungnya di dalam homestay disediakan teh, kopi dan pemanas air, jadi kami tetap bisa bersantai di gazebo sambil minum kopi buatan sendiri di pagi hari. Dari tuan rumahnya pun kami mendapat cemilan pagi berupa tempe kemul dan geblek (cireng ala wonosobo). Lumayaan lah untuk nemenin kopi.

mau poto yang lagi ngopi cantik, apa daya modelnya ngikut terus

mau poto yang lagi ngopi cantik, apa daya modelnya ngikut terus

warung kopi (bawah) yang lagi tutup

warung kopi (bawah) yang lagi tutup

kasi cireng ke kucing

kasi cireng ke kucing

Tempe kemul & geblek (cireng)

Tempe kemul & geblek (cireng)

  Kalau ingin berwisata ke Dieng dan sekitar Wonosobo, atau mengejar sunrise di puncak Sikunir, homestay ini bisa jadi salah satu pilihan. Letaknya memang masih agak jauh dari wisata Dieng Plateu, karena lebih dekat dengan alun-alun Wonosobo. Namun untuk rombongan keluarga apalagi yang bawa anak kecil macam gw, homestay ini cukup pas, baik hawanya, kondisi, maupun lokasinya. Kalau mau kuliner khas Wonosobo, tinggal ngesot ke kota. Hawa dinginnya juga tidak terlalu menusuk buat anak-anak. Di area dekat wisata Dieng sebenarnya juga sudah banyak sekali homestay bergeletakan di pinggir jalan. Tapi kalo bermalam disana, dinginnyaaaa ga nguatin.

Thats all my review, hope it helps buat yang lagi cari-cari penginapan di area Wonosobo & Dieng ^^

Alamat OWK Homestay:

Permata Hijau Residence

Jl. Lurah Sudarto Km 01 Wonosobo

Telp (0286)3320078, 0812-266-1429

Kalau bingung, di Google maps juga udah ada.

Detail info lain bisa cek ke websitenya: http://www.owkhomestay.com/

Review Eagle Camp (Dusun Bambu), Lembang

Eagle Camp Dusun Bambu

Setelah sabar menunggu anak rada gedean dikit dan aman buat diajak camping, akhirnya Mei lalu kami sekeluarga berkesempatan untuk bercamping ria di Lembang, Bandung. Nama camping groundnya Eagle Camp, lokasinya di Dusun Bambu. Orang Bandung biasanya udah tau tempat ini, karena tempat ini sudah lama dibuka untuk umum. Kami mengajak dua keluarga lain untuk bergabung bersama kami. Awalnya gw memesan satu double tent dan satu single tent dua bulan sebelum hari H, siapa tau banyak yang berminat ikut karena gw memilih hari buruh yang kebetulan jatuh pada hari Jumat, jadi bisa sekalian long weekend di Bandung. Namun sampai minggu terakhir, beberapa keluarga batal ikut, yang akhirnya tersisa tiga keluarga.

Untuk memastikan pesanan, gw rutin mengecek pesanan ke resepsionis Dusun Bambu via telpon sampai seminggu sebelum hari H. Gak mau kan, udah jauh-jauh ke Bandung, ngajakin keluarga lain, trus ternyata tendanya udah full.

Kami berangkat dengan dua mobil, dengan meeting point di rest area KM 19. Berhubung mobil di rumah bensinnya boros banget, kami memutuskan untuk nebeng mobil keluarga Thomas & Bane. Kami berangkat dari rumah jam lima pagi, naik taksi ke rest area. Waktu itu jalanan sudah ramai. Sepertinya banyak yang mau menghabiskan long weekend di Bandung seperti kami. Kami sampai di rest area jam enam pagi dan langsung membeli burger dan kentang untuk bekal di perjalanan sembari menunggu mobil Thomas datang. Keluarga Thomas sampai lima belas menit kemudian, dan kami langsung melanjutkan perjalanan. Rencana awal menjadikan rest area KM 19 sebagai meeting point kami batalkan karena tol sudah terlalu ramai, dan kami memilih berkumpul setelah sampai di Bandung saja.

Sampai di Bandung, keluarga Faisal & Dini sudah menunggu kami di salah satu minimarket. Kami hanya berhenti sebentar disana untuk membeli cemilan dan minuman untuk di perjalanan, perjalanan masih lumayan jauh dan kalau kesiangan sedikit saja, jalan ke arah Lembang macetnya minta ampun.

Kami beruntung bisa sampai di gerbang Dusun Bambu pagi, sekitar jam 10, jadi antrian masuk ke areal dusun bambu masih belum terlalu ramai. Untuk masuk ke dalam area Dusun Bambu disediakan mobil wara wiri gratis, sedangkan mobil pengunjung harus diparkir di dekat gerbang masuk. Khusus untuk pengunjung yang menginap disana, mobil bisa dibawa masuk sampai ke areal camping, cukup menunjukan bukti reservasi camping/penginapannya.

antrian masuk dusun bambu di pagi hari

antrian masuk dusun bambu di pagi hari

mobil wara wiri

mobil wara wiri

Setelah check in di samping Pasar Khatulistiwa (food courtnya), kami langsung menuju tempat camping. Reservasi dibuat untuk double tent, awalnya gw pikir double tent itu adalah tenda yang super besar, dua kali lipat single tent. Ternyata double tent itu maksudnya double deck. Jadi ada dua buah single tent yang berada dalam satu area, dan memiliki satu pintu keluar yang sama dan masing-masing deck memilki kamar mandinya masing-masing. Uwooww….it’s waaaayy better than I expected hahaha. Berhubung tendanya ada dua, pembagiannya menjadi lebih mudah. Tenda satu untuk ibu-ibu, dan tenda kedua untuk para bapak, jadi kami yang berjilbab ini bisa bebas berkeliaran di dalam tenda hehehe.

panoramic photo of our double deck / double tent

panoramic photo of our double deck / double tent

toilet untuk setiap tenda

toilet dan shower air hangat untuk setiap tenda

Fasilitas default di tenda Eagle Camp ini mirip default di kamar hotel yang umumnya disediakan untuk dua tamu di tiap kamarnya, antara lain: dua bed beserta selimut dan sleeping bednya, dua handuk, welcome drink (beserta teh, gula, kopi, dll), peralatan mandi (sikat gigi, sabun, sampo, shower cap) dan dua voucher untuk sarapan. Kalau melihat ukuran tendanya, sebenarnya satu tenda bisa diisi sampai enam sampai delapan bed, tergantung penyusunannya. Kami menambah dua bed supaya semua bisa dapat sarapan sendiri-sendiri, satu bed di tenda bapak-ers dan satunya di tenda gw. Di dalam tenda terdapat pemanas air, combo box, telepon, dan colokan listrik. Bener-bener camping barbie hahahaha……Oh disini juga dapat koneksi Wifi yang lumayan kenceng lohh. GRATIS!!

fasilitas dalam tenda

fasilitas dalam tenda kami

fasilitas: telepon, combo box, colokan listrik, kettle pemanas

welcome drink

welcome drink

Tendanya sendiri didirikan di atas kayu-kayu, jadi no need to worry buat yang takut tidur langsung di atas tanah. Buat anak-anak juga cukup safe (selama tetap dalam pengawasan ya) buat dijadikan tempat mereka bermain dan explore. Anak gw Ino (2y6mo) dan Christo (sekitar 1y9mo)anaknya Bane sangat menikmati tempat ini. Sampai di area camping langsung berlarian kesana kemari, kaya ga ada capek-capeknya, mungkin karena mereka sudah sempat tidur selama perjalanan ke Bandung ya. Di samping tenda terdapat alat barbeque, area api unggun, meja dan kursi dari kayu.

43

dua bocah yang ga ada cape capenya lari sana sini

41 44

area duduk santai di samping tenda

area duduk santai di samping tenda

Setelah menaruh barang-barang, kami memanggil mobil wara wiri untuk menjemput kami di tenda. Untuk memanggil, kami cukup menelepon ke room service dan tidak lama kemudian, mobilnya pun datang. Kami turun ke area foodcourt, sedangkan suami gw dan Faisal melanjutkan sampai ke gerbang depan untuk ibadah sholat Jumat. Di dalam area dusbam (gw singkat aja yaa :p) hanya terdapat mushola, jadi untuk Jumatan pengunjung harus keluar dulu dari areal dusbam.

naik wara wiri

naik wara wiri

Kami makan siang di Pasar Khatulistiwa yang letaknya persis di samping resepsionis tempat kami check in sebelumnya. Untuk makan disini, pengunjung harus menukarkan uang dengan lembaran uang khusus milik Dusun Bambu. Uangnya semacam uang mainan untuk anak-anak yang bisa kita beli di abang-abang penjual mainan keliling. Kalau tidak salah ingat, uang bisa ditukarkan dalam kelipatan 2500 rupiah dan sisa uang yang tidak terpakai tidak bisa ditukar kembali. Jadi pastikan menghitung makanan yang akan dibeli kalau tidak mau rugi. Makanan yang dijual di foodcourt ini bervariasi, mulai dari cemilan macam kue cubit, kue ape, arumanis, es krim, gorengan sampai makanan berat macam soto, sate, nasi gudeng dan sebagainya. Overall rasanya biasa aja kalo menurut gw, dari segi harga sedikit lebih mahal dari harga pasaran. Wajar sih, karena tidak ada penjual makanan lain di area itu. Untuk yang mau beli oleh-oleh, di pasar khatulistiwa juga dijual bermacam barang yang lucu-lucu, tapi harganya gak lucu jadi gw ga beli hihihi.

pasar khatulistiwa

pasar khatulistiwa

?????????????

mata uang dusun bambu & nasi bakmoy yang gw pesan

?????????????

sentra oleh-oleh

Di dusbam ini banyak aktifitas outdoor yang disediakan. Ada area memanah, ATV, paintball, sewa sepeda, dan mini farm buat anak-anak. Kami sendiri tidak ada agenda bermain khusus disana, hanya ingin berleha-leha menikmati segarnya alam. Jadi gw dan anak gw lebih banyak bermain bebas disana, lari-lari di rumput lah, manjat ini itu lah, semaunya pokoknya.

areal bermain di depan pasar khatulistiwa

areal bermain di depan pasar khatulistiwa

Kami menghabiskan sepanjang sore berleha-leha di sekitar tenda sekalian mempersiapkan makan malam. Dusun bambu menyediakan paket barbeque, namun kami tidak memesan paket tersebut. Kami membawa bahan makanan untuk dipanggang dan disantap saat makan malam, seperti jagung dan sosis. Gw juga bawa beras beserta rice cookernya untuk membuat nasi, tapi berhubung rice cookernya dipakai buat ngangetin berbagai macam makanan lain, akhirnya malah ga jadi bikin nasi. Untuk memakai alat panggang kita tidak perlu pusing, tinggal telpon housekeeping, dan staff dusbam langsung datang untuk menyalakan sekaligus membantu memanggang. Yaiiyy…

staff dusbam yang membantu persiapan barbeque

staff dusbam yang membantu persiapan barbeque

48

petugas kipas kipas

28

petugas kupas kupas

99

petugas oles bumbu

Malamnya kami mendapat welcome snack yang seharusnya diantar ke tenda sebelum kami datang. Isinya macam-macam, ada kacang, buah-buahan, dan beberapa kripik. Lumayan lah buat teman menikmati api unggun sekaligus buat menambah ganjelan perut, karena berhubung makan malamnya ga pakai nasi jadi kurang kenyang rasanya.

56

late welcome snack

20150501_190138_LLS

menikmati api unggun

52

low light photo sebelum tidur

Bermalam di Eagle Camp cukup dingin, karena terletak di dataran tinggi sekaligus dikelilingi pohon rindang, apalagi malamnya juga sempat hujan walaupun sebentar. Untungnya sleeping bag dan selimut yang disediakan cukup bisa menghangatkan badan. Plus, gw juga bawa selimut extra buat jaga jaga kalau selimut yang disediakan tidak cukup hangat untuk anak gw. Untungnya dua bocah kecil yang ikut camping disini sudah cukup lelah bermain, jadi malamnya mereka ga rewel, dan nyenyak sampai pagi. Padahal areal camping di seberang bukit ramai dengan musik dangdutnya sepanjang malam, tapi Alhamdulillah kami bisa tidur enak.

tidur nyenyak sepanjang malam

tidur nyenyak sepanjang malam

Paginya kami berjalan-jalan mengitari areal dusbam menuju resto Burangrang, tempat sarapan disediakan untuk para pengunjung dusbam yang menginap disana. Tadinya kami mau meminta jemputan ke tenda, tapi akhirnya kami memilih berjalan kaki sambil berfoto di sepanjang jalan menuju resto. Di pagi hari, areal taman bunga, danau, lapangan dan semua area dusbam masih sepi sekali, jadi kami bebas berfoto disana sini. Udaranya juga sejuk sekali.

73 74 75 78

Sarapan di dusbam cukup bervariasi, dari segala soup, nasi goreng, salad, cereal, roti, dan sebagainya. Rasanya tidak terlalu wah, tapi cukup lah untuk mengisi perut kami yang lapar karena semalaman tidak makan nasi. Di resto Burangrang, kita bisa sarapan sambil menghadap danau yang menjadi icon Dusun Bambu. Sayang kemarin tidak sempat berfoto di spot mainstreamnya Dusun Bambu di pinggir danau itu hihihi. Oiya, selain dapat voucher sarapan, kami juga mendapat voucher naik perahu keliling danau, tapi tidak sempat kami pakai.

?????????????

voucher sarapan & naik sampan

79

sarapan dusun bambu

Full team dengan background danau yang jadi icon Dusun Bambu

Full team dengan background danau yang jadi icon Dusun Bambu

Sekian review (yang kebanyakan justru cerita) tentang Dusun Bambu, semoga membantu buat yang mau mengunjungi ^^.

Photos courtesy of Thomas Satrio (papanya christo).

Untuk info lebih detail tentang Dusun Bambu, cek aja langsung ke:

web: http://www.dusunbambu.com/
IG: dusunbambu

Review Dafam Hotel Cilacap

Beberapa minggu lalu, gw dapat dua undangan pernikahan yang diadakan di Cilacap, satu dari sepupu gw, satunya lagi dari tetangga masa kecil. Sudah hampir sepuluh tahun gw pergi dari Cilacap, kota kelahiran gw. Rasanya kangen juga, sekaligus berasa aneh saat harus cari-cari penginapan di kota kelahiran sendiri hehe. Maklum keluarga gw di Cilacap udah tinggal sepupu gw itu, dan tidak mungkin gw menumpang di rumahnya karena rumah mereka sendiri sudah dirombak jadi panggung manten. Bisa riweuh nanti kalo menginap disana.

Setelah pilah pilih via Agoda, yang ternyata emang tidak banyak pilihan yang oke di kota itu, akhirnya kami memilih untuk menginap di Dafam Hotel. Waktu gw tinggal di Cilacap dulu, hotel ini belum ada. Waktu itu di lokasi yang sama masih berdiri Grand Hotel, namun sekarang sudah diambil alih, direnovasi dan berganti nama menjadi Dafam Hotel.

taken from : Agoda

taken from : Agoda

Lokasi Dafam cukup dekat dari stasiun kereta Cilacap. Jadi kalau turun di stasiun Cilacap, bisa naik becak yang mangkal disana, banyak kok. Bayar sekitar sepuluh ribu, atau kalo mau ngirit dikit ya tawar aja sampe lima ribu. Bisa dapet kok, kalo beruntung hahaha. Lokasi ke Pantai Teluk Penyu juga dekat sekali. Karena persis di depan hotelnya adalah jalan menuju pantai. Naek becak juga bisa. Mungkin sekitar sepuluh ribuan. Perkiraan loh yaa..gw sendiri waktu itu ke pantai nebeng kakak gw yang bawa mobil ke Cilacap, jadi ga tau tarif becak menuju pantai.

Hotel ini hanya terdiri dari dua lantai, lantai dasar dan lantai atas. Jadi tidak ada lift. Kalau berencana menginap di hotel ini dan bawaannya banyak, better minta kamar di lantai bawah. Dan kalo memang mau pakai fasilitas kolam renang, jangan lupa minta kamar di lantai dasar yang dekat dengan kolam renang, karena ruang bilas di kolam renang hotel ini rada vulgar, jadi mendingan bilas di kamar masing-masing.

Waktu booking hotel, gw ga tau kalo hotelnya ga punya lift. Padahal bawaan gw segambreng, karena bawa outfit kondangan lengkap, make up plus perlengkapan si kecil. Waktu itu gw book dua kamar, dan sayangnya kamar di lantai dasar tinggal satu yang kosong. Jadilah gw dapet kamar di lantai atas *hyaaaaa*. Emak gw menempati kamar di lantai dasar, kebetulan dapat kamar persis di depan kolam renang *yaaiiyy bisa numpang bersih bersihhh*.

Kondisi kamar di Hotel Dafam terkesan agak tua. Sepertinya renovasi dari Grand Hotel tidak terlalu membuang banyak furniture. Jadi interiornya tidak berasa seperti hotel baru. Dan, gw compare dengan foto-fotonya di Agoda pun lumayan berbeda dengan aslinya. Fasilitas kamarnya lengkap, standar bintang tiga. Ada wifi, tivi, meja, shower, toilet duduk, dan AC pastinya. Kamar emak gw, ukurannya jauh lebih luas, namun fasilitasnya sama.

kamar gw

kamar gw kalo dari depan pintu kamar

kamar gw kalo dari jendela

kamar gw kalo dari jendela

Kami sempat mencoba kolam renangnya. Maklum bawa anak kecil, kalo liat kolam renang gede dikit anak gw langsung pengen terjun  jadi kalo nginep di tempat yang ada kolamnya gw selalu prepare baju renang, minimal buat anak gw. Kolam renangnya bersih, dan rajin dibersihkan pula. Dua malem gw nginep disana, tengah malem selalu ada suara gemericik air dari arah kolam. Gw pikir ada yang berenang tengah malem, ternyata suaranya penjaga kolam yang lagi bersihin kolam renang. Sorenya pun ada yang bersihin kolamnya lagi. Asli rajin 

Kolam renang Dafam. Di belakang ada penjaga yang lagi bersihin kolamnya.

Kolam renang Dafam. Di belakang ada penjaga yang lagi bersihin pinggiran kolamnya.

Menu sarapan yang disediakan di Dafam cukup beragam, ada sup-supan, bubur-buburan, sereal, roti, mini cake, egg corner, nasi goreng, nasi putih dan lauk pauk. Oiya kalau suka bermain bilyard, di lantai dasar juga ada meja bilyar yang bisa dimainkan secara gratis.

Tarif yang gw dapat waktu itu berkisar tiga ratus ribuan. Jadi dua kamar per harinya tidak sampai tujuh ratus ribu. Untuk kamar gw yang kecil agak kemahalan sih, tapi kalo ngukurnya pake kamar Emak gw yang luas ya itungannya murah hehehe.

Buat short visit di Cilacap sebenernya hotel ini cukup nyaman, hanya saja AC di kamar gw dan Emak gw tidak terlalu dingin untuk ukuran Kota Cilacap yang puanass .Minus point yang rada ngeganggu adalah lobbynya yang jadi smoking room di malam hari. Yes, waktu menginap disana (entah mungkin karena malam minggu) ada live musik di lobby yang dibawakan penyanyi berbaju sexy, dan semua yang di lobby diperbolehkan merokok. Entah mulai dari jam berapa. Jadi waktu gw dan keluarga mau keluar cari makan malam, kami harus melewati kumpulan asap rokok yang berasal dari lobby dan area bilyard. Not really a family-with-young-children friendly hotel sih menurut gw. Mungkin memang target hotel ini bukan untuk family holiday, karena saat saya disana pun tidak banyak keluarga yang menginap. Mayoritas pengunjungnya adalah bapak-bapak karyawan yang sedang berdinas di Cilacap. Jadi yaa hiburannya disesuaikan dengan tipe pengunjung terbanyak.

So..thats all my review. Semoga membantu untuk cari-cari referensi ya. Detail tentang Dafam Hotel bisa dilhat disini.

Hotel Dafam Cilacap
Jl. Dr. Wahidin 5-15 Cilacap 53212
Central Java – Indonesia
Tel. +62 282 5200 97
Fax. +62 282 5200 98
E-mail : info@dafamcilacap.com

Review Fivestones Hostel Singapore

Gw dan suami menginap di hotel ini jauh sebelum anak kami lahir. Tepatnya waktu gw hamil satu bulan (dan waktu itu gw belom ngeh kalo udah hamidun). Udah rada basi sih reviewnya. Ya lumayan lah ya, buat jadi referensi yang lagi cari-cari hostel buat backpack. Kalo ternyata kondisinya udah jauh beda, let me know 

Hostel ini gw pesan melalui hostelworld. Nama Fivestones ini diambil dari permainan khas anak-anak Singapura. Waktu itu mutusin milih hotel ini karena foto kamarnya colourful, trus bersih, trus harganya masi masuk budget (sorry, gw lupa waktu itu dapet harga berapa hehe). Plus bacain review dari beberapa pengunjung, kok kayanya lokasinya strategis. Jadilah kami memilih hostel ini untuk short visit kami di Singapura.

Fivestones tampak depan (waktu masih di South Bridge Rd)

Fivestones tampak depan (waktu masih di South Bridge Rd)

Waktu itu kami berangkat dari Jakarta pagi-pagi, jadi sampai di Fivestones kami belum bisa check in, tapi kami bisa titip tas bawaan kami sampai waktunya check in nanti. Sambil menunggu waktu check in tiba, kami berdua jalan-jalan mencari tempat makan. Lokasi hostel ini waktu itu memang cukup strategis untuk turis yang doyan jalan kaki dan naik bus. Karena persis di teras hostelnya adalah halte bus yang bisa langsung ke vivocity. Gausah pake transit dan pindah jurusan. Ngesot kesonoan dikit udah sampe Clarke Quay. Mo ke chinatown, Hong Lim Park, Orchard, udah deket banget. Waktu itu lokasi hotel masih di South Bridge Rd. Sekarang gw liat di webnya alamatnya udah pindah ke 285 Beach Road, which is lumayan jauh dari lokasi hostel sebelumnya. Tapi kalo liat fasilitas dan bentuk kamarnya, mereka masih pakai konsep yang sama.

Kamar kami (sorry rada blur)

Kamar kami (sorry rada blur)

atas: kasur gw, bawah: kasur suami

atas: kasur gw, bawah: kasur suami

Kamar di Fivestones dilengkapi bunk bed dan jumlahnya variatif. Ada yang isi delapan kasur, enam kasur sampai empat belas kasur. Ada juga type Family room yang cocok buat pengunjung yang ogah berbagi kamar bareng orang asing. Ada juga kamar khusus wanita. Kasurnya empuk, nyaman dan bersih. Tiap kasur dikasi bantal khas Fivestones. Tiap kasur juga punya loker sendiri-sendiri yang terletak di samping kasur masing-masing. Jadi walopun kamarnya share sama pengunjung lain, barang-barang tetap aman karena tiap loker bisa dikunci. Di masing-masing kasur disediakan lampu baca dan colokan listrik. Jadi ga perlu rebutan colokan buat charging ini itu. Waktu itu kami memilih kamar yang berisi empat bunk bed (delapan orang).

Meja makan

Meja makan

Ruang tivi. DVD Friendsnya kumpliiittt

Ruang tivi. DVD Friendsnya kumpliiittt

Ruang bebas (makan, internet, tivi)

Public Area (makan, internet, tivi)

Ruang makan di Fivestones digabung dengan ruang tivi dan tempat internet. Setiap pengunjung bebas memakai tivi dan internet, gratissss. Tapi PCnya waktu itu Cuma ada dua, lengkap dengan headset dan webcamnya masing-masing. Jadi kalo penuh ya kudu gantian. Ruang tivinya dilengkapi koleksi DVD yang cukup banyak dan sofa besar yang nyaman banget. Dan yang paling oke, koleksi DVD Friendsnya kumplitttt, all seasons!!! Aaaakk…kalo aja ga ada plan kemana-mana, gw pasti nonton Friends marathon disana 

Pantry yang bersih

Pantry yang bersih

Kelengkapan pantry

Kelengkapan pantry

Ruang makannya kecil, tapi kumplit alatnya. Ada toaster, microwave, termos pemanas air, dan kulkas softdrink. Hostelnya menyediakan roti tawar, selai, keju, corn flakes, chocolate crunch, kopi, teh dan susu. Standar lah ya untuk ukuran budget hostel. Kalo mo menu yang agak mewah ya bawa aja sendiri, trus tinggal diangetin pake microwave 

WC dan kamar mandi di Fivestones ada di luar kamar dan dipakai bersama-sama. Cukup bersih, sabun dan sampo kecil juga disediakan disana, in case kita ga bawa. Plus ada hairdryernya juga. Cumaaa…seperti hostel dengan kamar mandi umum lainnya, kalo lo bangun kesiangan, kamar mandinya dijamin udah sisa pengunjung lain. And you know lah, tiap orang punya level kebersihan yang berbeda. Kalo gw, prefer bangun pagi dan mandi duluan, pas kamar mandi baru dibersihkan 

Overall, menginap di hostel ini cukup menyenangkan. Apalagi waktu itu masih berdua suami. Masi penganten baru. Apa-apa masih belom komplen hahahah. Staff di Fivestones orangnya santai dan ramah. Perlu diingat, kalau memilih hostel yang sharing room, kudu prepare mental. Kalo kira-kira kaga bisa tidur sekamar sama orang asing ya jangan pilih yang sharing room  Pengalaman gw, waktu itu, salah satu pengunjung wanita dari Korea ga bisa tidur kalo lampunya nyala. Untungnya yang nginep di kamar itu semuanya fine fine aja tidur dalam gelap. Ada lagi satu pengunjung pria India yang kebetulan kasurnya sebelahan sama suami gw di bawah (gw di kasur atas), pulangnya malem banget dan langsung tidur ngorok sampe pagi. Beruntung gw dan suami dikaruniai sleeping skill yang ga pake ribet. Kalo udah ngantuk ya tinggal merem. Mo terang mo gelap, mo berisik mo sepi hayuk ajahh

PS: kondisi dan lokasi hotel kemungkinan besar sudah berbeda dari yang gw tulis. jadi yang mau book hostelnya better ceki ceki dulu kesini: http://www.fivestoneshostel.com/

Oia..kalo mau ikutan nampang di public area Fivestones, jangan lupa minta dipoto pas check out. Gratiss 

Review Hotel GH Universal Bandung

Rooftop GH Universal

Rooftop GH Universal

Familiar dengan bangunan ini? Yang sering jalan-jalan ke Bandung, terutama arah ke Lembang pasti udah sering liat kubah bangunan ini nyempil di tepi jalan yah. Yes ini Hotel GH Universal. Hotel di Bandung yang dibangun dengan gaya eropa jaman Renaissance. Beberapa bulan lalu kami berkesempatan mecoba hotel ini. Awalnya Cuma ingin jalan-jalan ke Bandung dan memilih penginapan seadanya. Saat sedang memilih-milih via Agoda, kok ya pas ada promo dari hotel ini. Kamar superior yang biasanya hampir 3jeti/mlm, waktu itu didiskon sampai 500ribuan/mlm. Kapan lagi kan bisa stay di hotel bintang 5 dengan harga budget  Jadilah kami pilih hotel ini sebagai akomodasi selama short trip ke Bandung.

Atribut lobby, tempat berfoto ria

Atribut lobby, tempat berfoto ria

Hotel ini cocok untuk yang ingin menghabiskan waktu di Bandung daerah atas, karena letaknya dekat dengan jalan menuju wisata Lembang, sehingga mempersingkat waktu perjalanan menuju lokasi wisata. Apabila ingin menghabiskan waktu di area Bandung kota, aksesnya cukup dekat dan lancar. Hanya saja akses balik menuju hotel jalannya cukup padat, terutama saat weekend. Drivernya bisa pegel nginjek kopling berjam2, karena jalan menuju hotelnya menanjak plus macet. Kalau gw sih prefer ambil penginapan di daerah kota kalau memang target yang ingin dituju lebih banyak di area kota.

Twin Bedroom

SuperiorTwin Bedroom

Disini kami mendapat kamar tipe superior. Waktu memesan di Agoda, gw lupa memesan kasur tipe queen dan kebetulan pas kami datang kamar superior dengan queen bed sedang habis. Jadilah kami dapat kamar dengan twin bed. Alhamdulillah staffnya mau menggabungkan dua twin bed dan melapisinya dengan bed cover king size, jadi si kecil bisa bebas berguling2 tanpa khawatir terjepit di tengah  Kamar yang kami tempati cukup bersih dan nyaman sekali. Interiornya mewah, namun ukuran kamarnya cukup sempit. Jarak antara kasur dengan meja dan televisi juga cukup dekat. Jadi kalau bawa anak kecil, lari-larinya jangan di kamar ya, mending mainnya di luar kamar saja 😀 Untuk kamar mandi, ukurannya cukup luas, mungkin karena tidak menggunakan bathtub, melainkan menggunakan shower room. Oiya, hotel ini juga meminjamkan baskom untuk memudahkan memandikan bayi apabila kita membawa bayi. Free. Waktu itu kami meminjam baskomnya, namun karena agak telat dikirim ke kamar, jadi si kecil sempat kami mandikan di washtafel. Untungnya, dia cukup menikmati bermain-main dengan keran washtafel.

Bed yg sudah digabung

Bed yg sudah digabung

Menikmati mandi di washtafel

Menikmati mandi di washtafel

IMG_5162 IMG_5161

Jendela kamar kami menghadap parkiran mobil dan bus, dan di sebelahnya terdapat animal care. Yes, di hotel ini kita bisa membawa binatang peliharaan karena memang ada tempat penampungan hewan-hewan tersebut selama pemilik beristirahat di kamar. Umumnya hewan yang dititipkan adalah kucing atau anjing. Sebagai saran, kalau ingin kamar yang tidak terlalu berisik, pesanlah kamar yang jauh dari animal care ini. Pengalaman gw waktu menginap disana, di pagi dan sore hari ada jadwal hewan dimandikan dan diajak bermain, sehingga suara gonggongan anjing ramai terdengar dari kamar gw.

Pemandangan (parkiran) dari kamar

Pemandangan (parkiran) dari kamar

Salah satu yang gw sukai dari fasilitas hotel ini adalah menu sarapannya. Menunya lengkap sekali, ada berbagai jenis menu sarapan yang disediakan. Sebagai ibu yang membawa bayi yang sudah ikut makan table food, gw bawa bermacam makanan untuk si kecil, jaga-jaga kalau menu hotel tidak baby-friendly. Namun ternyata menunya cukup komplit, ada bubur ayam, sup, buah-buahan, roti tawar, roti gandum, salad, pastry, mini cake, nasi goreng, mi goreng, sereal, daging ham, sosis, dan masih banyak lagi. Ada juga egg corner (standar lah ya kalo yang ini) yang melayani permintaan berbagai jenis telur seperti omlette, telur mata sapi dan sebagainya. Gw sendiri ketagihan waffelnya, adonannya pas rasanya.

Overall, hotel ini cukup oke untuk short trip kami yang saat itu memang mengunjungi area bandung atas macam de Ranch, Rumah Sosis, Maja House, dsb. Recomended untuk kumpul keluarga yang waktunya memang lebih banyak dipakai buat ngumpul-ngumpul, atau foto-foto sekitar hotel. Banyak spot foto yang oke disini. Dan lebih recomended lagi datangnya pas ada diskon macam yang gw dapat  Tapi kalau tripnya lebih banyak dihabiskan di luar penginapan, saran gw sih mending cari guesthouse yang ada di sekitaran kota. Sayang aja duitnya kalau pas dapet harga normal tapi cuma dipakai untuk naro tas. Tambahan, kalau memesan kamar tanpa breakfast, better bawa cemilan sendiri untuk sediaan sarapan. Karena di sekitar hotel tidak ada minimarket dan warung.

Oiya, disini juga ada kolam renangnya, tapi airnya dingin. Anak gw Cuma sempet nyemplung sekitar 5 menitan. Itu juga main air mancur saja karena gw takut dia kedinginan. Untungnya ada shower air hangat di ruang bilasnya. Jadi ga perlu naik ke kamar dulu untuk bilas si kecil. Saran gw,  kalau mau ajak anak-anak kecil berenang atau main air mending nyeberang ke Rumah Sosis di depannya (jalan sedikit). Areanya lebih child-friendly.

Honeymoon Backpack to South Korea (2)

Gw lanjutin cerita jalan2nya yaaaaa… 

Day 4, 17 November 2011

Haeundae Beach

Paginya kami mengunjungi Haeundae Beach. Setau gw, ini pantai selalu ramai dikunjungi orang untuk berjemur dan bermain olahraga pantai. Tapi ternyata gw salah, musim gugur sepiiii….yang ada Cuma burung-burung . Ya eyalah, udaranya dingin gitu, mana ada yang mau berjemur hahaha. Tapi setidaknya cuacanya lumayan buat bermain-main sejenak di tepi pantai. Suejukk  Hari ini kami akan kembali ke Seoul pada jam empat sore, pake bus gratis lagi pastinya ya. Jadi kami punya cukup waktu untuk keliling Busan sampai sore.

atas: Haeundae Beach di musim gugur, bawah: di depan Busan Aquarium

atas: Haeundae Beach di musim gugur, bawah: di depan Busan Aquarium

Di samping Haeundae Beach terdapat Busan Aquarium. Semacam SEA Worldnya Busan. Tapi berhubung tiketnya rada mahal, dan gw juga rada males ngeluarin duit buat nonton binatang, jadi kami tidak masuk kesana. Hanya berfoto di depan tulisannya hehehe. Dari Busan Aquarium, kami menuju Haeundae Subway St sembari berfoto-foto di jalanan. Banyak loh patung-patung unik yang bisa dijadikan teman berfoto di sepanjang jalanan Busan.

objek2 poto yg lucu sepanjang jalan

objek2 poto yg lucu sepanjang jalan

Jagalchi Fish Market & BIFF Square

Kami turun di Jagalchi St dan mengikuti petunjuk jalan menuju Jagalchi Fish Market, salah satu pasar ikan terbesar di Korea. Berbagai macam isi laut tumpah ruah di pasar ini. Dari rumput laut, penyu, gurita, ikan kecil sampai ikan yang gede banget juga ada, kepalanya doank sih gw liatnya hehehe. Disini, pengunjung juga bisa beli ikan untuk dimasak dan makan di tempat. Lebih segar pastinya  Kami tidak membeli ikan atau makan disana, karena kantong sudah menipis hehe. Cukup berkeliling sambil berfoto.

Jagalchi Fish Market

Jagalchi Fish Market

Puas berkeliling, kami berjalan menyebrangi area Jagalchi Market menuju BIFF Square, tempat perhelatan Busan International Film Festival. Dulu namanya PIFF Square, saat Busan masih disebut Pusan. Disini terdapat walk of fame berisi cap tangan artis dunia macam yang ada di Hollywood sono. Di BIFF square ini juga terdapat berbagai macam toko yang menjual barang unik. Lumayan buat cuci mata sekalian belanja oleh-oleh.

BIFF Square

BIFF Square

Busan Tower & Yongdusan Park

Selanjutnya, kami menuju Busan Tower yang berada di area Yongdusan Park. Ga jauh kok dari BIFF Square, jadi bisa ditempuh dengan berjalan kaki santai. Di Yongdusan Park ini ditanami berbagai macam pohon yang mengeluarkan warna-warni yang indah saat musim gugur, ada pohon sakura juga loh  Di lantai dasar Busan Tower, di sekitar loket penjualan tiket masuk tower, terdapat banyak kursi gratis yang bisa kita gunakan untuk duduk-duduk santai sambil melihat pemandangan kota Busan dari ketinggian. Asik banget buat yang pengen ngegalau hehehe. Oiya, di Busan Tower ini juga ada Locks of Love, persis seperti yang di N Seoul Tower, hanya saja gemboknya lebih sedikit dibandingkan yang ada di Seoul.

Di jalan keluar dari Busan Tower, sepanjang taman dipenuhi kumpulan kakek-kakek yang berkelompok sambil bermain board game. Asik ya, biar udah tua tapi masi bisa kongkow rame-rame.

Busan Tower & Yongdusan Park

Busan Tower & Yongdusan Park

Selesai dari Busan Tower, kami menuju Paradise Hotel, boarding point shuttle bus yang akan membawa kami kembali ke Seoul hari itu.

Shuttle bus berangkat on time jam empat sore, dan sempat berhenti sebentar di rest area. Jalanan dari Busan sampai dengan Korea ini cukup sepi dan mulus, plus didukung shuttle bus yang nyaman sekali, jadilah kami tidur sepanjang perjalanan. Maklum ya, capeee kitaah jalan kaki keliling Busan 

Gwanghamun Square, King Sejong & Admiral Yi Memorial Hall

Kami sampai kembali di Seoul pada jam sepuluh malam dan turun di dekat Gwanghamun Square. Berhubung belum pernah foto di taman yang super luas ini, maka berfoto lah kami di depan patung Admiral Yi Sun-Sin, Laksamana yang terkenal akan perannya dalam memimpin angkatan laut Korea. Berjalan sedikit ke belakang patung Admiral Yi, terdapat juga patung King Sejong, salah satu Raja Korea yang juga merupakan penemu karakter Hangul, yaitu karakter huruf yang digunakan oleh masyarakat Korea hingga sekarang. King Sejong juga banyak memberi kontribusi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, budaya serta astronomi. Di patung King Sejong ini, kita juga bisa melihat karakter Hangul jadul yang sudah tidak dipergunakan lagi saat ini. Bentuknya mirip-mirip morse 

Gwanghamun Square & karakter Hangul jadul

Gwanghamun Square & karakter Hangul jadul

Saat mengelilingi patung King Sejong, gw liat ada pintu masuk ke area bawah patung. Ternyata yaaa..di bawah patung ada museumnya yang masih buka sampai malam. FREE pula!! Hahahaha…gini nih kalo jalan-jalan minim info. Serba kebetulan

Kami masuk ke dalam area museum yang ternyata sangat luas sekali. Mungkin seluas Gwanghamun Squarenya, karena museum ini menyimpan benda-benda bersejarah dari kedua patung yang dipajang di Gwanghamun Square itu, King Sejong dan Admiral Yi. Di museum ini, kita bisa melihat replica Kapal Kura-Kura yang digunakan Admiral Yi selama bertempur di lautan. Ada juga video room yang menceritakan sejarah pertempuran yang dilakukan Admiral Yi. Di sisi lainnya, kita bisa melihat evolusi bentuk karakter Hangul hingga akhirnya sampai seperti yang digunakan sekarang. Jadi yang berkesempatan mengunjungi Gwanghamun Square ini, jangan lewatkan mengunjungi museumnya yah. Terutama yang narsis, banyak spot foto yang keren soalnya di dalem hehehe.

Atas: Replika Kapal Kura2 yang digunakan Admiral Yi, Bawah: perlengkapan perang yang digunakan

Atas: Replika Kapal Kura2 yang digunakan Admiral Yi, Bawah: perlengkapan perang yang digunakan

King Sejong Memorial Hall

King Sejong Memorial Hall

Day 5, 18 November 2011

Nami Island

Hari ini kami berencana mengunjungi Nami Island, tempat shootingnya Winter Sonata yang tersohor itu. Kalau sekarang sih udah banyak film yang ambil lokasi syuting disana ya, jadi bukan semata-mata “Tempat Shooting Winson” lagi . Untuk mengunjungi Nami Island terdapat shuttle bus khusus untuk mengangkut pengunjung yang berangkat dari Seoul. Shuttle bus ini bisa dibooking maksimal satu bulan sebelum hari H. Ini sebenarnya cara yang paling mudah untuk mengunjungi Nami Island, karena kita tinggal menunggu bus di Pagoda Park dan membayar ticketnya. Ticketnya pun ada yang paket round trip sekaligus tiket ferynya, jadi ga perlu pusing lagi. Namun karena gw pengen sampai di Nami sebelum rombongan turis lain datang, jadi kami tidak menggunakan shuttle bus. Kami naik subway hingga ke Sangbong St (Olive Green Line). Dari situ, kami melanjutkan naik kereta antar kota menuju Gapyeong St. Petunjuk arah di sepanjang jalan menuju Gapyeong cukup mudah dipahami. Mungkin karena ini termasuk rute yang paling laris dilewati turis ya. Sampai di Gapyeong St, kami naik bus dari depan stasiun menuju Gapyeong Wharf, tempat boarding kapal fery yang akan menyeberangkan kami ke Nami Island.

Atas: Gapyeong St & Bus yg membawa kami ke Gapyeong Wharf. Tengah: Immigration & Entry Visa. Bawah: Rombongan Fery kami saat di kapal & saat masuk Nami

Atas: Gapyeong St & Bus yg membawa kami ke Gapyeong Wharf. Tengah: Immigration & Entry Visa. Bawah: Rombongan Fery kami saat di kapal & saat masuk Nami

Harga tiket PP ke Nami saat itu KRW 8000, sudah termasuk tiket Fery. Gerbangnya memang bertuliskan ‘Immigration’, tapi jangan khawatir, karena masuk ke Naminara Republic ini tidak perlu visa lagi. Cukup beli tiketnya yang bertuliskan ‘Entry Visa’.

Waktu kami sampai di Nami masi belum terlalu ramai, tapi karena Fery yang kami tumpangi ukurannya cukup besar, jadi rombongan yang diangkut pun cukup banyak dan langsung meramaikan Nami sesampainya kami disana  Banyaaaak banget spot foto yang bagus di Nami ini, apalagi kami datang saat musim gugur pas dedaunan berwarna warni berguguran, jadi tanah di Nami dipenuhi daun berwarna warni. Sayangnya, berhubung cuma kesana berdua, jadi ga bisa foto berdua di spot yang gw pengenin, salah satu musti motoin hihihi. Kita cuma berbekal tripod gurita. Bisa dililitin di ranting pohon sih, cuma spot yang bagus ga ada ranting pohonnya, adanya pohon dengan batang yang guedhe, jadi ga bisa dililitin tripod.

Kiri: spot foto yang dipengenin. Kanan: spot foto yang terjangkau tripod :p

Kiri: spot foto yang dipengenin. Kanan: spot foto yang terjangkau tripod :p

Beberapa spot foto di Nami

Beberapa spot foto di Nami

Oiya kalau berkunjung ke Nami Island, cobain naik sepeda disini, jadi bisa puas keliling sampai ke pinggiran pulau. Karena luasnya mirip-mirip Gili Trawangan, jadi pegel juga kalo jalan kaki keliling. Jenis sepeda disini bermacam-macam. Semakin nyaman, semakin mahal hehehe…jadi kalo nyewa yang ada mesinnya (yang ga pake genjot) ya mahal. Kami menyewa jenis sepeda tandem, jadi kalo gw males genjot, cukup suami  aja yang genjot 

Macam2 Nami Bike's

Macam2 Nami Bike’s

Kalau lapar, di nami tersebar berbagai warung makan dan resto, tinggal pilih yang sekiranya halal. Ada petunjuk ke musholanya juga loh disini, hanya saja waktu itu kita ga nyariin, soalnya belom masuk waktu sholat saat kami disana. Di Nami juga terdapat beberapa jenis hewan yang memang dibiarkan bebas berkeliaran, seperti tupai, bebek, kelinci, dan beberapa jenis burung. Jadi jangan kaget kalo lagi jalan-jalan di Nami tiba-tiba ada tupai loncat  Di warung tempat kami makan juga sempat ada burung unta yang nyamperin pengunjung yang sedang makan.

Nanta Show & Hangang River Cruise

Puas berkeliling Nami, kami kembali ke Seoul melalui jalur yang sama saat berangkat. Di Seoul, kami turun di Myeongdong St, karena kami berencana menonton Nanta Show (Cookin Nanta). Gw baca review dari beberapa turis, Nanta Show ini merupakan pertunjukan komedi non verbal yang cukup recommended untuk ditonton apabila kita mengunjungi Korea Selatan.

Beberapa hari sebelumnya kami sudah mengunjungi area Myeongdong, dan gw sudah menemukan tempat pertunjukan dan pembelian tiket Nanta Show ini, sehingga kami tidak perlu pusing mencari lagi. Harga tiketnya bervariasi, tergantung posisi duduk yang kita pilih. Kami memilih tempat duduk yang paling murah seharga KRW 40.000 (sekitar Rp 320.000,-). Kalo dikurskan emang jatuhnya rada mahal untuk turis model backpacker, tapi show ini memang udah masuk dalam list target kami, jadi udah masuk budget plan hohohoho…

Ga bole foto2 di dalem, jadi foto2 di luar aja kitanya

Ga bole foto2 di dalem, jadi foto2 di luar aja kitanya

Nanta Show ini menggabungkan atraksi akrobat, komedi, permainan ekspresi dan partisipasi dari penonton. Alat-alat yang digunakan adalah peralatan dapur macam panci, mangkok, pisau, talenan, kompor, dll. Seperti menonton konser musik dan lawak yang musiknya dihasilkan dari permainan alat-alat dapur. Pemain Nanta Show dibagi menjadi beberapa tim, dimana setiap tim terdiri dari lima aktor yang memerankan Manager, Keponakan Manager, 2 Koki laki-laki, dan 1 Koki perempuan. Penonton pun bisa ikut memainkan peran di panggung apabila terpilih, karena ada scene dimana ketiga koki masing-masing menggunakan asisten untuk membantu menyiapkan masakan dan pemeran asisten ini dipilih dari penonton.

Selesai menonton Nanta Show, kami menyempatkan membeli jajanan di sekitar area Myeongdong (lagi) sekalian mengisi perut. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Sungai Han, sungai besar yang membelah kota Seoul, lebarnya sekitar 1Km boo….Sungai ini banyak digunakan di shooting film korea maupun video klip musik. Salah satunya di film Seducing Mr Perfect, waktu si boss ngajak asistennya rehat sebentar di saat jam kantor buat ngilangin stress. Mereka naik ferry dan berkeliling di Sungai Han ini. Asik yaaa, pulang ngantor bisa ngelayap keliling sungai naik kapal fery hahahaha. Di video klip Gangnam Stylenya Psy juga ada scene yang diambil di sungai ini loh, ya itu pas Psy naik motor boat sambil joget-joget gangnam style 😀 Kita juga bisa mencoba menaiki Ferry Cruise macam di film itu. Ferry ini memang disediakan khusus untuk membawa pengunjung berkeliling Sungai Han, melewati beberapa jembatan besar di Seoul. Kalau kelilingnya pas malam lebih bagus, karena lampu-lampu kota dan jembatan sudah dihidupkan, jadi lebih romantis pemandangannya xixixixi. Untuk menaiki Ferry ini, terdapat tiga dock yaitu di Yeouido, Jamsil dan Ttukseom. Kami naik dari Yeouido Dock. Walaupun namanya Yeouido, bukan berarti turun subwaynya di Yeouido St ya, karena terlalu jauh kalau turun dari stasiun itu. Untuk naik dari dock ini, turun subwaynya di Yeouinaru St (Purple Line) kemudian keluar dari Exit 5, dari situ tinggal jalan ke Pier A untuk membeli tiket Ferry. Jenis ferry yang terdapat di Yeouido ini bervariasi dan harganya pun bervariasi. Tetapi waktu kami datang, hanya tinggal satu jenis ferry yang masih beroperasi yaitu Live Concert Cruise seharga KRW 15.000 (sekitar Rp 120.000,-).

Atas: tempat boarding Hangang River Cruise & Lantai atas kapal, Tengah: pemandangan Seoul dari kapal, Bawah: Area Indoor

Kapalnya terdiri dari dua tingkat, tingkat bawah merupakan indoor area dimana kita bisa menikmati pemandangan Sungai Han dan Kota Seoul melalui kaca ruangan. Di area ini juga terdapat panggung yang menampilkan live music. Waktu itu yang tampil adalah seorang penyanyi pria dengan gitar akustiknya, gw ga tau namanya karena perkenalannya pake bahasa korea hehehe, yang jelas lagu yang dibawakan enak banget buat ngelamun, mendayu-dayu gemana gitu . Di lantai atas merupakan area outdoor, disini kita bisa menikmati pemandangan sambil duduk-duduk di pinggir dek kapal sembari diterpa angin sepoi-sepoi. Sayang waktu itu cuaca sedang hujan, jadi rada susah ambil foto pemandangan kota dari dek kapal, takut kamera gw rusak hihihi…

Buat gw, harga yang ditawarkan Hangang River Cruise ini lumayan mahal mengingat rutenya cukup singkat. Jadi kalo ga terlalu pengen dan budget juga terbatas, mending menikmati tamannya aja. Di sepanjang pinggiran Sungai Han ini terdapat  taman yang cukup besar yang biasa digunakan masyarakat sekitar untuk berkumpul, bersantai dan berolahraga ringan. Dari sini kita juga bisa lihat pemandangan Kota Seoul di malam hari. Cuma karena waktu kami datang kesana udah malem, jadi udah lumayan sepi tamannya.

Day 6, 19 November 2011

Gyeongbokgung Palace

Hari terakhir di Korsel kami mengunjungi Gyeongbokgung Palace, istana terbesar di Seoul yang terletak persis di depan Gwanghamun Square. Kami berangkat pagi-pagi karena gw pengen liat pergantian penjaga istana yang katanya Cuma ada pas pagi sama sore. Sampai disana sudah ramai pengunjung yang datang walaupun masih pagi, kemungkinan sama seperti gw ya, nunggu pergantian penjaga. Istana ini merupakan peninggalan raja terdahulu yang memang terus dirawat oleh pemerintah Korsel, jadi tidak benar-benar ditinggali oleh keluarga kerajaan ya, karena Korsel juga udah ga berbentuk kerajaan lagi sekarang.

Istana Gyeongbokgung ini dijaga puluhan pengawal dengan ekspresi dingin yang berdiri baik di sisi luar maupun dalam pintu gerbang. Masing-masing penjaga membawa senjata dan sebagian membawa bendera. Kita boleh lo ambil foto bareng mereka, Cuma merekanya ga ikut berpose ya, karena sepanjang tugas jaga mereka harus terus diam dan berikap siaga. Garuk-garuk aja kayanya ga boleh hehehe. Sekitar jam Sembilan, ada komando dari pengawal di dalam gerbang yang disambut pimpinan pengawal yang berjaga di depan gerbang pertanda pergantian tugas akan segera dimulai. Pengunjung yang sedang berfoto bersama pengawal bubar semua termasuk gw hahaha…

Gyeongbokgung Palace

Gyeongbokgung Palace

Pergantian ini cukup lama prosesinya, sekitar lima belas menitan lah. Karena selain pergantian pengawal, ada juga penyerahan bendera, ada pula pasukan genderang yang mengiringi prosesi sampai semua pasukan shift selanjutnya menempati posisi.

Untuk masuk ke dalam istana ini tidak gratis, jadi kita harus membeli tiket masuk terlebih dahulu seharga KRW 3000. Beruntung kami bisa mengunjungi istana ini saat musim gugur, karena di musim gugur pohon-pohon di dalam istana yang biasanya berwarna hijau mulai memerah dan menguning. Jadi warnanya pas bagus bagus bangeeeeettt…

Pohon di halaman istana. Merahnya okee

Pohon di halaman istana. Merahnya okee

Kalau sempat mengunjungi istana ini jangan lewatkan mencoba Hanbok, pakaian tradisional Korea Selatan. Gratis kok, cuma kalau lagi rame biasanya antri. Kalau malas antri, bisa juga berfoto di triplek berlukiskan orang yang memakai hanbok, tinggal pasang muka kita disitu, trus jepret deh 

Free Trial Hanbok

Free Trial Hanbok

Melihat istana Gyeongbokgung dari dekat membuat gw membayangkan bagaimana kehidupan keluarga kerajaan yang pernah tinggal di istana ini di masa lalu. Well…gw mbayanginnya berdasar film Dae Jang Geum sih, tapi harusnya kurang lebih gitu kan  Korea Selatan beruntung memiliki warisan sejarah seperti ini yang sampai sekarang masih terus dilestarikan oleh pemerintahnya. Sehingga meskipun telah berbentuk republik, masyarakat masa kini masih bisa duduk-duduk di halaman istana masa lalu sembari mengenang kejayaan kerajaan terdahulu.

Insa-dong

Keluar dari Gyeongbokgung Palace, kami mengunjungi Insa-dong untuk berbelanja oleh-oleh dan berkuliner ria. Iya, soalnya malamnya kami musti kembali ke Jakarta, dan kami memang sengaja mau hunting oleh-oleh di hari terakhir supaya ga terlalu kalap. Kalo hunting di awal takut kalap, takut ntar duitnya abis duluan hehehe.

Kalau berbelanja di Insa-dong, jangan takut menawar, tawar aja semurah-murahnya. Sejauh pengalaman gw berbelanja disana, dapet harga murah ga susah susah amat. Malah banyak penjual yang tau tau nuruinin harganya secara drastis, jadinya gw terpaksa beli. Padahal tadinya Cuma iseng nawar murah, eh malah dikasi, trus dikasi bonus pula . Nah ini yang paling nyenengin selama belanja barang-barang di Korea. Setiap beli barang pasti adaaa aja bonusnya. Dan ga tanggung-tanggung, bonusnya bisa tiga sampe empat item loh. Misal gw beli syal, karena diskonnya banyak, gw beli tiga, eh dikasi asesori sama yang jual. Di Etude House, gw iseng beli BB cream buat kakak gw, eh dibonusin serum, nail polish sama mini parfum. Mantab kan 

Kiri atas: Gerbang masuk Insadong, Kanan Atas: Samgyetang, Kanan Bawah: Pajeon, Kiri Bawah: Bibimbap

Kiri atas: Gerbang masuk Insadong, Kanan Atas: Samgyetang, Kanan Bawah: Pajeon, Kiri Bawah: Bibimbap

Makan siang di Insa-dong, kami mencari warung makan yang menyediakan makanan khas Korea Selatan. Gw memesan Samgyetang (sup ayam ginseng). Samgyetang ini merupakan makanan tradisional korea yang banyak khasiatnya. Udah jauh-jauh sampe negeri ginseng bo, masa iya gw lewatin masakan berginsengnya  Orang Korea biasanya memakan samgyetang ini di musim panas, untuk menjaga tubuh tidak lemas kehabisan energi karena banyak mengeluarkan keringat. Isi supnya antara lain ayam utuh, beras ketan, berbagai racikan bumbu dan ginseng. Suami gw memesan Bibimbap. Kalo yang ini udah familiar pastinya kan, karena Bibimbap ini makanan Korea yang paling sering muncul di drama-drama Korea. Bentuknya seperti nasi campur, karena kata bibimbap sendiri memang artinya ‘nasi campur’  Isinya biasanya terdiri dari nasi yang dicampur berbagai macam sayuran, daging sapi, telur dan saus pedas.

Satu lagi yang kita pesan adalah Pajeon. Pajeon ini katanya sih pancake seafood khas Korea, Cuma kalo gw liat lebih mirip martabak kalo di Indonesia. Ada semacam cukanya juga. Rasanya? Yaaa lumayan lah kalo buat snack. Kalo buat makan berat mah eneg, bertepung-tepung soalnya 

Malamnya kami berangkat ke Airport untuk kembali ke Jakarta. Flightnya masih tengah malem sebenernya, cuma berhubung bawaan sudah menumpuk dan kami pun sudah cukup lelah maka kami memutuskan untuk langsung ke Airport dan menunggu waktu pulang sambil cari-cari tempat istirahat di Airport. Sebenernya sebagian besar stasiun subway menyediakan loker penyimpanan sih, bahkan ada layanan transfer ke stasiun tujuan kita, Cuma sayang aja duitnya  kalo nitip cuma sebentar 

Perjalanan ke Jakarta sempet transit beberapa jam di KL. Kelamaan nunggu di airport KL sampe mati gaya, akhirnya kami memutuskan untuk keluar airport dan mengunjungi Petronas. Lumayan lah daripada bengong di airport. Lagian rasanya masi belom pengen pulaaaang, masi pengen jalan jalaaan 

Nah selesai deh cerita jalan-jalan kita ke Korea. Doain gw ya, mudah2an bisa dapet rejeki dan kesempatan untuk mengunjungi negara tetangganya juga, biar gw bisa share cerita2 lagi xixixixi…

Honeymoon Backpack to South Korea (1)

Kesampean juga posting catper backpack ini. Setelah nyimpen draftnya selama dua taon  Lumayan buat catetan di masa tua nanti, saat gw udah mule lupa lupa inget, gw bisa baca baca lagi cerita perjalanan gw di masa muda 

Langsung aja lah ya..

Gw dan suami berkesempatan mengunjungi Korea Selatan saat honeymoon kami November 2011 lalu. Sehari selepas acara nikahan, kami berangkat ke Seoul dari Jogja. Spiritnya sih pengen backpack, makanya bawaannya kaga banyak banyak amat dan ga pesen bagasi (berangkatnya ya ). Waktu itu pesawat yang kita pakai ga ada direct flight ke Seoul, jadi sempet transit dulu di KL selama sekitar dua jam.

Day 1, 14 November 2011, 09.45 PM (Seoul)

Setelah sekitar 6 jam perjalanan udara, kami sampai di bandara Incheon. Waktu itu sedang musim gugur di Seoul, dan suhunya berkisar 11 derajat. Rada salah kostum sih, soalnya kami cuma pakai baju seadanya buat anget-anget di pesawat. Soalnya waktu berangkat dari Yogya, suhunya sedang hangat disana, jadi kita berdua cuma pakai jaket, tanpa kaos kaki atau baju penghangat ataupun sarung tangan. Hasilnya?keluar bandara langsung menggigil sambil antri bis bandara . Oiya, sebelum keluar bandara kami sempatkan untuk membeli T-Money (ini card kepake banget buat alat bayar transportasi dan beli di minimarket) dan mengambil peta seoul. Petanya guedhe bangett, lengkap pula. Mulai dari jalan-jalan di Seoul, rute subway sampai tour-tour yang disediakan di Seoul. Jadi dijamin berguna banget buat traveller non-tour macam kita gini 

Selama di Seoul, kami menginap di Bangrang Hostel yang letaknya dekat dengan Cheoungjongno St. Gw pilih disitu karena deket banget sama subway dan gampang dicapai airport limousine bus. Jadi mau kemana-mana gampang.

Map Bus Stop di Incheon

Map Bus Stop di Incheon

Airport bus di Bandara Incheon ada bermacam jenis, jadi kalau berencana menggunakan transportasi ini, pastikan cek dulu rute dan tempat menunggunya disini ya. Malam itu, kami naik bus nomor 6015 jurusan  Myeong-Dong, harga tiketnya KRW 10.000 (sekitar Rp 80.000,-), tempat pemberhentian bus ini di airport ada di lantai 1 area 5B dan 12A. Tiket Airport Bus ini bisa dibeli di dekat pintu keluar. Petunjuknya jelas kok, ada petunjuk arah versi English juga, jadi jangan takut bingung 

Sampai di Cheongjongno St, kami turun dari bus dan langsung masuk ke dalam area stasiun untuk menyeberang ke sisi jalan lainnya, karena hostel tempat kami menginap terletak di seberang pemberhentian airport bus. Waktu itu sudah tengah malam, dan suhunya lumayan bikin menggigil, jadi kami buru-buru check in dan menaruh barang bawaan di kamar. Setelah itu, kami sempatkan keluar untuk cari ransum di minimarket terdekat.

Untungnya yaaa…biar udah tengah malem, tapi masih ada beberapa minimarket yang buka. Berhubung si mas yang jaga toko (sepertinya) kurang bisa ngomong english, jadi lah kita silent shopping, ambil barang >> tunjukin ke kasir >> bayar hahaha.

Day 2, 15 November 2011

Namsan Seoul Tower

Pagi pertama di Seoul, kami mengunjungi Namsan Seoul Tower. Salah satu icon kota Seoul yang biasa jadi incaran turis, terutama yang demen drama korea macam gw  N Seoul Tower ini bisa dicapai dengan menggunakan cable car dari Myeongdong St atau naik shuttle bus dari Chungmuro St. Kami memilih menggunakan shuttle bus, sekalian jalan-jalan santai liat kota Seoul dan menikmati subway. Dari Cheungjongno St (stasiun terdekat hostel) kami harus transit dulu di Euljio sam ga St untuk pindah ke Yellow Line, Chungmuro St berada tepat setelah Euljio St. Keluar stasiun melalui exit 2, perhentian Bus N Seoul Tower terletak di dekat exit tersebut. Busnya tersedia sepanjang hari dengan tarif KRW 500 (dulu ya ). Bus ini membawa kami sampai ke area parkir N Seoul Tower. Sebagai info, subway station di Seoul ini rata-rata luas sekali, jadi kalau berencana menggunakan subway sebagai transportasi untuk keliling Seoul, pastikan fisik lo cukup kuat untuk naik turun tangga plus jalan jauh di sepanjang lorong. Karena untuk menjangkau subway yang terdapat di bawah tanah ini, jarang terdapat escalator, mostly tangga. Jadi ngerti kan sekarang, kenapa orang Korea singset semua hihihi. Sampai di N Seoul Tower, berhubung baru sarapan sedikit dan udah cape naek turun tangga stasiun, kami membeli odeng, jajanan khas Korea. Isinya semacam soup baso ikan. Lumayan lah buat isi-isi perut.

atas: tangga & lorong menuju MRT, bawah: halte & bus menujun Namsan Tower

gbr diambil dr food.detik.com (gw lupa moto soalnya :p)

gbr diambil dr food.detik.com (gw lupa moto soalnya :p)

Setelah itu kami jalan ke puncak N Seoul Tower. Kebetulan saat itu sedang ada fesival di N Seoul Tower, jadi banyak sekali pengunjung yang datang kesana dan banyak tontonan pula di sekitar area tower. Di puncak tower ini, terdapat ribuan gembok cinta yang memenuhi pagar tower. Kebanyakan gembok ini dipasang oleh pasangan yang sedang jatuh cinta. Mereka menuliskan namanya di gembok dan membuang kuncinya jauh-jauh, supaya gemboknya tetep awet jadi kenang-kenangan disana. Gw dan suami? Cukup berfoto sajah 

Di N Seoul Tower ini juga terdapat Teddy Bear Museum, Restaurant dan beberapa Observatory yang bisa dinikmati pengunjung, pake bayar tapi ya. Berhubung kami mengusung spirit backpack, jadi kami tidak masuk ke dalam tower. Kami hanya berkeliling taman di tower, berfoto dan menikmati acara yang sedang diadakan di sekitar tower.

atas: parade gembok cinta, kiri bawah: pelataran Namsan Tower, kanan bawah: tiket cable car Namsan Tower

atas: parade gembok cinta, kiri bawah: pelataran Namsan Tower, kanan bawah: tiket cable car Namsan Tower

Puas keliling tower, kami turun ke parkiran tower menggunakan cable car. Kami membeli one way ticket seharga KRW 6.000 (Rp 48.000,-). Sampai di parkiran, kami kembali ke kota menggunakan shuttle bus.

Myeongdong, Seoul Night City Tour & Cheonggyecheon Stream

Turun di Myeongdong, kami berjalan-jalan di sekitar area Myeongdong, menikmati bermacam jajanan Korea. Pilih-pilih yang sekiranya halal pastinya ya  Kebanyakan sih meragukan, jadi kami  hanya beli beberapa makanan, berfoto, dan sesekali masuk ke toko-toko yang ada di area itu untuk hunting souvenir khas Korea.

macam-macam korean street food

macam-macam korean street food

Malamnya setelah keliling Myeongdong, kami ikut Seoul Night City Tour yang berangkat dari Gwanghamun St Exit #6. Tour ini menggunakan bus yang beroperasi seharian dan mengunjungi spot-spot wisata di Seoul, namun khusus untuk yg Night Tour rute yang dilewati lebih pendek.

Masing-masing kursi bus ini dilengkapi audio guide dengan bermacam bahasa, jadi setiap melewati spot wisata, kita bisa mendengarkan penjelasan mengenai spot tersebut. Di Night Tour ini, mayoritas spot wisatanya jembatan doank sih  ada Seogang Bridge, Seongsu Bridge, Hannam Bridge, de es te. Rada boring memang, tapi kalau ada yang memang ga punya banyak waktu untuk keliling kota Seoul yaaa tour ini lumayan lah buat liat-liat Seoul dalam waktu singkat 

Seoul & N Seoul Tower di malam hari

Seoul & N Seoul Tower di malam hari

Tour ini berakhir di Cheonggye Square yang terletak persis di sebelah Cheonggyecheon Stream. Awalnya kami berencana cari makan malam terus langsung pulang. Ternyataaaaa di Cheonggyecheon Streamnya sedang berlangsung Korean Lantern Festival 2011!! Waaaa senangnyaaaa….gw dan suami langsung menggila di tepi sungai ituh  FYI, Korean Lantern Festival ini diadakan setiap tahun, dan biasanya diadakan di awal November selama dua minggu. Beruntung banget pas kesana pas ada festival ini 

Korean Lantern Festival di Cheoggyecheon Stream

Korean Lantern Festival di Cheoggyecheon Stream

lampion yang ditulis dan dihanyutkan

lampion yang ditulis dan dihanyutkan

Di festival ini, dipajang lampion dengan berbagai bentuk yang keren keren bangeett, banyak pulak. Pengunjung juga bisa membeli lampion untuk ditulisi dan dihanyutkan ke sungai bersama ratusan lampion lainnya.

Day 3, 16 November 2011

Busan

Hari ini kami berencana mengunjungi Busan dengan memanfaatkan free Shuttle Bus yang disediakan pemerintah Korsel khusus untuk turis yang berkunjung ke Korsel sepanjang tahun 2010 sampai 2012. Untuk bisa menikmati fasilitas ini, diperlukan booking jauh sebelum hari keberangkatan, karena cukup banyak peminatnya dan terbatas pula seat busnya.

Bus ini berangkat jam 8 pagi dari depan Dong Hwa Duty Free Shop di Gwanghamun. Kami hampir tertinggal bus gara-gara kesiangan. Bangun tidurnya jam setengah delapan dooong  Cuma punya waktu setengah jam buat sampai ke boarding point. Langsung lah kami ambil barang seperlunya, cuci-cuci yang perlu dicuci, terus langsung keluar hostel. Kami tidak check out hari itu, rugi sih ga kepake semalem, tapi gapapa lah, semalam doank inih *tabur duit*

Ini tips buat yang mau backpack dengan jadwal kunjungan yang ketat dan udah keburu beli tiket kunjungan kesana kesini, PILIH HOSTEL DEKAT STASIUN. Beruntung hostel kami dekat banget ama stasiun, jadi keluar hostel langsung masuk stasiun, lari ngebut menyalip orang-orang berangkat kantor dan langsung naek subway ke Gwanghamun. Sampai disana, bus belum berangkat. Kami masih punya sekitar lima menit sebelum jam 8. Fiuhhh…  langsung kami datangi tour leader untuk menunjukkan paspor dan mengumpulkan ticket yang sudah diprint, setelah itu kami menyempatkan sarapan di McD dekat situ.

Perjalanan Seoul-Busan ditempuh sekitar enam jam dengan dua kali pemberhentian untuk sekedar ke toilet dan membeli makan minum. Kami sampai di Busan sekitar jam dua siang. Bus berhenti di dua tempat untuk menurunkan penumpang, yaitu di Paradise Hotel (dekat Haeundae Beach) dan Busan Lotte Hotel (dekat Gwanganri Beach). Kami memilih untuk turun di Paradise Hotel karena Guest House yang kami book di Busan terletak tidak jauh dari hotel tersebut. Dari Paradise Hotel, kami berjalan kaki menyusuri jalanan sekitar Haeundae Beach untuk mencari penginapan kami, WOW Guest House.

atas: warung makan dekat guesthouse, bawah: bareng Genie, yang punya guesthouse

atas: warung makan dekat guesthouse, bawah: bareng Genie, yang punya guesthouse

Sampai di hostel, kami langsung menaruh tas dan keluar mencari sesuap nasi. Pemilik guesthouse, Genie Kim, memberi kami petunjuk lokasi tempat makan yang harus dicoba di sekitar guesthouse. Rada ragu sih, karena sekitar guesthouse tempat-tempat makannya ada patung babi semua hahaha. Akhirnya kami masuk ke salah satu warung yang menjual sup seafood. Lumayan, buat isi-isi perut setelah longtrip  setelah makan kami kembali ke guesthouse. Rencananya sih sorenya kami mau liat sunset di Haeundae Beach, tapi ternyata kami terlalu tepaarrr…dan akhirnya baru terbangun setelah maghrib, udah keburu gelap huhuhuuu.

Haeundae Market & Shinsegae Centum City

Malamnya kami berjalan menyusuri Haeundae Market, semacam pasar ikan yang menjual berbagai jenis ikan segar dan beberapa hewan laut lainnya. Sebagian besar toko sudah tutup karena memang sudah malam. Kami berjalan menuju Haeundae Station, karena gw pengen mengunjungi Shinsegae Centrum City yang merupakan komplek perbelanjaan terbesar di dunia. Kami naik subway sampai Centum City St yang terhubung dengan pusat perbelanjaan tersebut. Sayangnya waktu itu tempatnya udah tutup, jadi kami Cuma berfoto sebentar dan berjalan kaki di sekitar Shinsegae. Sayangnya gw kurang aware dengan jadwal subway di Busan. Ternyata, subway tujuan Haeundae hanya beroperasi sampai jam sebelas malam.  Jadilah gw dan suami nyari-nyari bus buat balik ke guesthouse. Rada pusing liat rute bus di halte, karena di Busan sebagian besar petunjuk jalannya bertuliskan Hangul, jarang ada tulisan latinnya. Gw ambil bus yang kira-kira bakal turun di area Haeundae Beach. Seingat gw ada halte bus di dekat guesthouse. Yaaa…harusnya kalo udah keliatan pantai berarti udah deket lah ya, ntar gampang tinggal tanya penumpang bus lainnya.

salah satu toko di Haeundae Market

salah satu toko di Haeundae Market

Sialnya, petunjuk di dalam bus pun semuanya bertuliskan Hangul. Jadilah kami berbingung ria di dalam bus. Nanya penumpang, semuanya ga ada yang bisa bahasa Inggris, sampai akhirnya kami jadi penumpang terakhir yang turun dari bis. Kami turun di depan terminal antah berantah hahaha. Dari sana, kami mencoba menyetop taxi yang sliweran di dekat terminal. Dapet satu taxi, tapi drivernya ga membolehkan kami naik karena kami berbahasa asing, hiks. Padahal gw udah nunjukkin kartu nama guesthouse yang ada peta menuju guesthouse. Tetap aja disuru turun dari taxi  Untungnya taxi kedua bersedia mengangkut kami setelah kami tunjukkan kartu nama guesthouse. Kalo ni taxi masi ga mo ngangkut juga, ga kebayang kita jalan kaki di tengah hawa dingin musim gugur brrrr..

Anyway..sampe sini dulu ya part 1nyah, next partnya gw rilis besok2. Ini aja udah kepanjangan kayanya 

Review Bangrang Hostel, Seoul

Sebenernya pengen nulis perjalanannya dulu, Cuma catetannya ilang. Jadi gw review penginapannya dulu aja ya… 

bangrang

Icon Bangrang Hostel

Gw dan suami menginap di hostel ini sebenernya udah lama banget, hampir  dua tahun yang lalu waktu honeymoon ke Korsel, Cuma baru sekarang gw sempet dan mood ngeposting reviewnya. Jadi kalau ada isi review disini yang udah ga sesuai sama kondisi hostel sekarang yaaa mohon dimaklumi dan dimaafkeun ya 

Urusan memilih hostel, gw selalu mengutamakan tiga hal, yaitu lokasi, kondisi kamar dan harga. Lokasi jadi concern gw yang paling pertama, terutama di daerah dengan public transportation yang sudah memadai. Jadi soal hostel, biasanya gw ambil yang lokasinya paling mudah dijangkau angkot lokal, supaya gampang buat muter-muter plus murah  Kalau udah dapet hostel-hostel yang lokasinya oke, gw tinggal liat review orang-orang di tripadvisor ato di hostelworld (atau semacamnya). Kalau mayoritas bilang bersih, langsung masuk list. Tapi kalo ada satu yang bilang ‘ada kecoa sliweran’, langsung gw CORET!!  maklum, kecoa kan sodaranya macem-macem bentuknya. Beda kota/Negara beda pula bentuknya. Kalo udah ada yang bilang kecoa di review, gw langsung kebayang They Nest. Iya, itu film yang isinya kecoa semua zzzzzz…

Kenapa ga nyari hotel aja? Simple, biar ngirit  Lagipula untuk backpack, hostel di Korsel udah jauh dari cukup. Trust me  Setelah menyeleksi beberapa hostel di Seoul, pilihan gw jatuh pada Bangrang Hostel. Dilihat dari peta, lokasinya dekeet banget sama stasiun kreta. Jadi gampang kalau mau kemana-mana. Plus, masuk dalam rute yang dilewati salah satu Airport Limousine Bus. Jadi dari airport nanti ga usah bingung transportnya  Plus interiornya korea bangeeet hihihi…langsung jatuh cinta gw 

Gbr dari: bangranghostel.com

Gbr dari: bangranghostel.com

Antri bis dulu di Airport

Sambil antri bis di Airport

Kalau dari Airport, Bangrang Hostel ini bisa dicapai menggunakan Airport Bus nomor 6015. Kita bisa turun di stasiun Chungjeongno (Green Line). Dari stasiun itu, ada jalan gang yang terletak di antara Exit 5 dan Exit 6. Bangrang Hostel terletak tidak jauh dari ujung gang tersebut. Persis di belokan jalan, sebelum tanjakan. Kalau dulu, tulisan Hostelnya ga terlalu keliatan. Untungnya gw sempet liat-liat gallery foto di webnya. Jadi gw tau bentuk luarnya.

Tampak depan hostel, view pagi hari

Tampak depan hostel, view pagi hari

Gw sampai disana waktu itu udah malem banget, sekitar jam 12, naik Airport Limousine Bus nomer 6015 dari airport, dengan tarip KRW 10,000 (Setara Rp 80,000 waktu itu). Sebelumnya gw udah confirm untuk late check in via email, jadi udah ditungguin sama pemiliknya langsung yang kadang ikutan jaga di meja receptionist, namanya Kim Seoung Beom. And you know what, buat check in cukup pake passport, ga usah print-print bukti reservasi. Kalo kata Kim di emailnya ‘You don’t have to print the confirmation letter, I will recognize you’ hahahah…  Owner disini lumayan friendly, dan lancar berbahasa Inggris. Jadi ga usah pake ribet belajar bahasa Korea dulu buat nginep disini.

Bangunan Bangrang ini sebenernya cuma satu bangunan, tetapi aksesnya dibagi menjadi dua. Akses ke Communal Area yang sekaligus tempat check in masuknya melalui pintu depan, dan satu lagi Dorm Area yang aksesnya lewat pintu belakang. Communal areanya nyamaaan banget. Di area itu terdapat ruang tamu, dapur, toilet, ruang nonton, plus meja receptionist. Ada juga mesin cuci yang ditaro di depan toilet.. Kalo mau ke Dorm Area alias ke kamar penginapan, musti keluar dulu, jalan nanjak dikit, terus masuk ke area penginapan lewat pintu belakang 

Ruang tamu hostel

Ruang tamu hostel

Hostel ini terdiri dari empat lantai plus rooftop untuk tempat jemur dan duduk-duduk santai. Communal area berada di lantai paling bawah. Gw kebetulan dapet kamar di lantai satu, persis di atas communal area. Jadi masuk dari pintu belakang, dan  ga perlu naik tangga lagi.

Koridor room area

Koridor menuju kamar

view kamar dari luar

view kamar dari luar

view kamar dari dalem (burantakaann hahaha)

view kamar dari dalem (burantakaann hahaha)

Waktu itu gw ambil double room dengan kamar mandi dalam seharga KRW 55,000/malam. Kamarnya sederhana, rapi dan cukup bersih. Kamar mandinya juga oke banget. Simple. Ada shower, toilet duduk, dan yang paling penting, aernya deres hehehe. Cucok lah buat orang indonesah yang suka buang-buang aer seperti gw 

toilet kamar

toilet kamar

colokannya sama kaya di Indo ^^

colokannya sama kaya di Indo ^^

Fasilitas di hostel ini cukup lengkap, dengan konsep self service. Di dapur peralatannya lengkap, ada kompor, segala panci, piring dan gelas. Bisa lah..dipake buat masak-masak yang ringan. Tapi jangan lupa dicuci lagi ya selesai pakai. Untuk makanan ringan, disediakan roti tawar, plus telurnya juga disediakan di kulkas. FREE  . Tapi hati-hati ya, musti nanya dulu yang mana roti dan telor yang grates. Soalnya ada juga tamu yang beli telor and disimpen di kulkas situ. Mau nyuci baju?ada mesin cuci, lengkap dengan petunjuk pemakaian. Cuma kalo pake mesin ini ga gratis ya, ada kudu masukin koin buat ngejalanin mesinnya. Internet disediakan gratis di communal area, kalau bawa leptop bisa juga connect wifi gratis dari kamar sendiri.

Area dapur

Area dapur

Hostel ini buka 24 jam (kecuali receptionnya ya). Jadi kita bisa bebas pulang dan pergi kapanpun kita mau. Untuk masuk ke communal area dan ke room area, pintunya dilengkapi kunci otomatis yang dilengkapi pin yang diganti secara berkala. Setiap tamu yang check in langsung diberi pin untuk keluar masuk penginapan. Jadi ga usah heboh pencet-pencet bel kalo pulang malem atau pagi.

Kunci pintu otomatis

Kunci pintu otomatis

Soal lokasi, di sekitar hostel terdapat beberapa penjual makanan dan minimarket. Beberapa minimarket buka 24 jam, jadi kalo laper malem-malem ga usah bingung cari makan. Dari tempat wisata, hostel ini juga dekat dengan istana Gwanghamun, sungai Cheonggyecheon, Myeongdong dan beberapa tempat wisata lain. Cuma kalo jalan gempor juga sih, jadi mending naik kreta 

Untuk pembayaran, hostel ini Cuma menerima cash saat kedatangan, tapi detail kartu kredit tetap diminta saat booking, In case terjadi pembatalan tanpa pemberitahuan.

Overall, gw puas menginap disini. Homy dan nyamaaan banget. Kalo mo nginep disini jangan ragu buat kontak staffnya buat nanya-nanya segala macem soal hostel ini via email sebelum kedatangan, mereka helpful banget loh  as they said in their official site ‘We will be delighted to help you out with anything. All you need to do is ask’ 

Detail lengkap Bangrang Hostel & kontaknya bisa langsung cek kesini: http://www.bangranghostel.com

Catper Pendakian Gn. Gede (2,958m)

Sebenernya ini perjalanan awal Juni taon kemaren sih, cuma baru sempet sharing catpernya sekarang, dari dulu belom sempet diedit draftnya .

Yap..awal juni taon lalu gw beserta beberapa teman nyempatin diri mengunjungi Gunung Gede. Mumpung project belom panas, mumpung kerjaan masih bisa dihandle dan mumpuung masi bisa jalan-jalan sebentar hehe…..

Rombongan gw kali ini terdiri dari peserta rombongan pendakian Kinabalu angkatan 2009 sampai 2010, plus tambahan beberapa pendaki yang datang dari bermacam kelompok pecinta alam, ada juga peserta dari wanadri angkatan Badai Rimba, angkatan lama banget yak . Yang jelas, banyak orang lain yang belom gw kenal. Dapet temen baru lagi daaahh…uhuuiii . Sebagian besar peserta rombongan sebelumnya udah pernah mengunjungi Gunung ini, beberapa bahkan udah langganan maen ke Gunung Gede, tapiiiii maennya pas jaman muda duluuuu hahaha…jadi buat beberapa dari mereka, pendakian Juni ini merupakan pendakian ke Gede yang kesekian kalinya setelah 10-12 tahun tidak mendaki. Fiuuhhhh…bener bener dahhh, udah tua-tua tapi semangatnya tetep tinggi yah .

Berangkat dari Jakarta, Jumat 4 Juni 2010 21.00.

Beruntung hari itu kerjaan bisa selesai sebelum sore, jadi gw dapet ijin buat pulang cepet. Dan beruntung juga hari itu banyak yang bawa mobil, jadi gw bisa milih-milih tebengan hohoho…

Sampe di Jakarta, gw langsung siap-siap berangkat ke Pasar Festival buat ketemuan ama Bagus, satu-satunya sahabat gw yang bisa ikutan pendakian kali ini. Abis itu berangkat bareng ke basecamp Karash (EOnya), udah ga pake acara packing-packing lagi, soalnya weekend sebelumnya semua barang udah gw pack dalam satu carrier. Jaga-jaga aja, in case hari Jumat gw ga bisa pulang cepet dan ga punya waktu untuk packing barang-barang lagi.

Dari basecamp Karash ke titik pendakian Gunung Putri, gw nebeng Pak Ronny, salah satu anggota pendakian Kinabalu batch Februari 2010, barengan ama gw 😀 Sistem transportasinya kali ini emang bukan berangkat rame-rame pake satu bis, tapi pake system tebeng, siapa yang kaga bawa mobil ya ngikut yang bawa mobil .

Rombongan gw sampe di meeting point sekitar jam 11 malam. Waktu itu sepanjang perjalanan sampe lokasi ngumpul cuacanya ujan mulu . Gerimis sih..tapi lumayan deras, jadi sampe sono hawanya lumayan dingin. Sesampainya disono, langsung pake jaket dan mule angkut-angkut carrier ke pos GPO, tempat kami menginap sebelom pendakian dimulai mbesok paginya.

Lokasi markas GPO dari tempat titipan mobil ga jauh-jauh amat sih, cuma berhubung melewati sawah-sawah, ditambah gerimis yang mengiringi sepanjang jalan, carriernya jadi kerasa agak berat hihihihi….Maklum dong yah, gw bawa body sendiri aja udah berat, apalagi kalo ditambah bawa carrier yang terisi penuh dan berjalan di dalam gelap malam (males ngeluarin senter soalnya ), plus musti berusaha mati-matian supaya ga kepeleset jatoh ke sawah. Lumayan butuh konsentrasi tinggi ituh .

Markas GPO

Sampai di markas GPO, disana udah ada beberapa orang yang memang bertugas di markas itu. Gw ama Ois (salah satu pendaki cewe yang ikut) dapet satu kamar sendiri, well…bukan kamar tidur sih, kamar kerja tepatnya, ga ada kasur, jadi kita tidur di lantai, dan gw nebeng di matras yang dibawa Ois karena gw kaga punya matras hehehe. Bapak-bapak dan mas-mas yang lain tidur di luar kamar dan entah jam berapa mereka tidur. Seingat gw jam satu malam gw masi bisa denger suara-suara mereka ngobrol ngalor ngidul di luar, sedangkan gw sendiri sedang berjuang tidur sambil menahan dingin, brrrrrr……

Sabtu 5 Juni 2010 05.30.

Gw bangun pagi masih setengah nyawa, dan gw liat barang-barang Ois di kamar udah kaga ada. Heee…gw udah keduluan ternyatah . Di luar kamar, orang-orang mulai sibuk menyiapkan barangnya masing-masing. Di markas ini juga barang-barang kami dicek oleh anggota GPO, siapa tau ada yang bawa sabun mandi, sabun cuci muka, sabun detergen ato perlengkapan lainnya yang bisa mencemari lingkungan Gunung Gede. Beruntung gw kesiangan, jadi barang-barang gw kaga dibongkar. Coba kalo iya, hooooo…sagala macam sabun ada di tas gajah gw hahahah, rempong yak…padahal ujung-ujungnya di atas kaga kepake-pake amat sih .

persiapan pagi

Setelah persiapan selesai, jam 07.00 kami mulai berangkat menyusuri jalur-jalur pendakian. Tadinya rencana jam 5 sih, tapi berhubung banyak yang bangun agak siang (termasuk gw), jadi terpaksa ngaret . Beberapa temen senior ada yang pakai jasa porter. Sedangkan gw? sementara gw bawa sendiri dulu lahh, kalo di tengah jalan gw kaga sanggup bawa yaaaa tar gw titip bawaan ke Bagus. Itu kan gunanya teman xixixixi….Ada juga beberapa porter yang memang sengaja dihire untuk ngebawain peralatan makan dan masak sekaligus bantuin kita masak di atas nanti. Baru kali ini nih naek gunung bawa koki, super lahhh..

Tim pendakian kali ini

Jalur awal via Gunung Putri lumayan menyenangkan, banyak pemandangannya dan ga terlalu melelahkan, makanya gw jadi sempet poto-poto heheheh….walopun bikin gw ketinggalan mulu sih jadinya . Sekitar 1 jam perjalanan, kita sampai ke pos pertama di ketinggian 1850 mdpl. Kata para tetua sih bentuknya udah jauh berubah dari bentuk asalnya dulu. Kalo dulu ada toiletnya dan bisa dipake buat tidur-tiduran, sekarang yaaaa bisa diliat di gambar lah yak. At least masih bisa buat berteduh dikala hujan turun .

Pos Pertama

Jam 10 kami sampai di pos keempat (kalo ga salah yah). Disitu kita buka bekal makanan yang memang sudah disiapkan sebelumnya, nasi bungkus daging, pake sambel ama lalapan plus buah buat dessertnya. Kumplit yak, ada tim konsumsinya boo…dipimpin Pak Rony beserta koki yang merangkap porter itu. Istirahat sekaligus late breakfast ditemani suara Elang Jawa yang mondar mandir di atas hutan tempat kami istirahat. Sayang gw ga dapet potonya, silau eui klo poto ke atas >.<

Pos Tempat Sarapan

Jalur Pendakian

Pas ngelanjutin perjalanan, langit udah mulai mendung. Target gw, musti bisa sampe alun-alun Suryakencana sebelom ujan turun. Rempong soalnya kalo sampe ujan turun dan gw masih ada di dalam hutan, pegangan pohon sana sini buat ngangkat badan gw nyusurin tangga-tangga alam, fiuuhh…..Beruntung jam 1 siang gw udah sampai di alun-alun dan hujan belum turun, jadi bisa liat spot-spot edelweiss di sekitaran suryakencana ^^. Di alun-alun kabutnya lumayan tebal, sesekali ditiup angin yang emang lumayan kenceng. Kata mas Firman, ‘kalau kabutnya putih gini biasanya hujan ga bakal turun’. Daaann…baru aja mingkem, langsung dah gerimisnya turun . Buru-buru kita nyari timnya Pak Rony yang memang selalu jalan di depan dan udah nentuin spot buat kita ngecamp. Weekend itu kebetulan emang lagi rame yang mendaki Gunung Gede, jadi di suryakencana waktu gw datang sore itu udah banyak tenda-tenda yang berdiri milik kelompok pendaki lain. Sambil menunggu teman lain yang masih kehujanan di dalam hutan, kami mulai mendirikan tenda-tenda yang sudah sampai di lokasi camping, plus nyiapin makan sore. Sempet nyobain daun Antanan Gunung yang memang tumbuh di sepanjang sungai deket tenda, katanya sih emang suka buat lalapan plus berkhasiat. Rasanya mirip cabe, pedes-pedes gimanaa gitu .

Kabut Tebal di Alun-alun Suryakencana

Daun Antanan Gunung

Camping Ground gw

cuci muka pake air es ^_^

Malam itu gw satu tenda bareng Ois (again), lumayan…dapet banyak tips pendakian dari dia hihihi. Sayang semalaman cuaca hujan mulu, jadi gw ga bisa keliaran di sekitar alun-alun, Cuma sesekali keluar tengah malem pas kebelet ama mau wudu. Sekitar jam 3 gw ngintip keluar, langitnya penuuuuuuuhhh bintaaaangg, aahhh…one of my favourite scenes kalo lagi di puncak ^^. Cuma waktu itu ga ada orang di luar, jadi gw cuma ngintip dari tenda, trus tutup tenda, lanjut kemulan hihihi…mo bangunin Ois ga tega, sama-sama capek soalnya .

Minggu 6 Juni 2010.

Jam 4 rencananya kami lanjut perjalanan ke puncak, tapi seperti biasa lah yaa…ngaret, jadinya kami lanjut perjalanan sekitar jam 5. Masih gelap waktu itu, jadi kudu bawa senter sendiri-sendiri. Sempet ada scene horror waktu gw terpisah dari temen-temen, jalan sndirian di tengah hutan, gara-gara yang jalan di depan gw naeknya cepet banget, sedangkan yang jalan di belakang gw pake prinsip alon-alon asal sampe . Jadilah gw jalan-jalan sendirian sampe ke puncak cuma berbekal headlamp di jidat gw, sambil nyariin jalur-jalur di antara pepohonan yang gw anggep bisa dilalui manusia .

gw & mba Endah, sarapan sebelom muncak

Jalur ke puncak gede ini ditumbuhi pepohonan lebat sampai ke puncaknya. Agak lebih subur dibanding dengan gunung-gunung yang pernah gw daki. Biasanya kalo mendekati puncak, pohonnya udah jarang daun, tinggal ranting-rantingnya doank. Makanya waktu ke puncak awalnya gw kaga ngarti kalo puncaknya udah dekat. Cuma kedengeran rame suara-suara orang, dan sesekali suara temen-temen manggil gw dari atas sono. Dari situ gw tau kalo puncak udah deket, dan ternyata bener…abis ngelewatin pohon besar akhirnya sekitar jam setengah 7 gw sampaai di puncaaakk !!! uhuuuiii…. . Udah ketinggalan sunrise di puncak sih, tapi gw udah liat kok pas di jalan naik hehehehe.

bareng Bagus, pas baruuu aja sampe puncak

Di puncak anginnya kuenceeeng buangeeettt, jadi keringet hasil perjuangan naik tadi langsung hilang. Sempet bengong di puncak, speechless….antara terkagum-kagum liat pemandangan, combine ama cape, laper plus kedinginan hihihi. Di puncak kita ga terlalu lama, sharing cerita ngalor ngidul, poto-poto dan langsung beberes buat turun ke bawah lewat jalur cibodas.

mulai turun lewat jalur cibodas

Jalur cibodas pemandangan di sepanjang jalurnya lumayan bervariasi, dan emang ga salah sih kita pilih naik lewat putri dan turun lewat cibodas. Kalo kemarin kita naek lewat Cibodas kayanya gw bakal keseringan berenti buat poto-poto hahahah. Untung naeknya lewat jalur Putri, jadi gw lebih konsen naiknya . Di jalur Cibodas, kita melewati air terjun kecil yang dialiri air panas, ngerendem kaki sejenak di sungai air Panas, mampir sebentar di Pos Kandang Badak dan Telaga Biru. Sempet mo belok ke air terjun Cibereum sih, cuma berhubung lutut gw udah rontok yaaa ga jadi dahh…besok-besok ajaaah.

melewati aliran air panas di jalur Cibodas

Jam 3 gw sampai di Red Shop, di taman wisata Cibodas, tempat mobil-mobil peserta dititipkan. Kelamaan yak jalannya?kebanyakan berenti soalnya gw, namanya juga menikmati perjalanan, santai laahh xixixi…di Red Shop ngaso bentar sambil nunggu yang lain, masih ada beberapa orang di belakang gw yang berjalan santai menikmati pemandangan. Dari Red Shop, rame-rame mampir ke villa Pak Ronny untuk makan siang sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Waktu pulang ke Jakarta, gw ama Bagus nebeng Pak Bambang, salah satu tetua yang masih demen bertualang kesana sini, dari gunung ampe laut semuanya disambangi. Lumayan eui, dapet cerita-cerita petualangan menarik dari beliau ^^.

Daaan sampai Jakarta, gw baru nyadar..hape gw ketinggalan di Cibodasss!! *Sigh 

Releasing Stress, Free Your Mind

weekend ini..
lupakan sejenak keramaian dan kebisingan ibukota
singkirkan sebentar tumpukan pekerjaan kantor

bersama sahabat mencari damai
mengasah pribadi mengukir cerita
menguji kesabaran hati
menurunkan egoisme diri yang mulai muncul kembali
menemukan dan mengenal kembali diri sendiri

melihat dan merasakan kembali
hijaunya kumpulan pepohonan
panjang dan terjalnya tumpukan bebatuan
dan indahnya alam di atas awan

Gunung Gede I’m coming…


Dear Guys…

Kali ini gw berangkat duluan ya..
melanjutkan wacana perjalanan kita dari 2 taon lalu
pengen mengulang cerita itu lagi bersama kalian
sayang kali ini cm gw ama botak yang bisa melanjutkan
kalian susah cutinya siiiiiihhh

buruan jadi boss, biar ga repot minta cuti lagi!!
gw tunggu di puncak impian kita..
puncak abadi para dewa 🙂

*sekali lagi kena omelan emak gara-gara pamit di hari H, udah kebaaaaal hahaha*