Honeymoon Backpack to South Korea (2)


Gw lanjutin cerita jalan2nya yaaaaa… 

Day 4, 17 November 2011

Haeundae Beach

Paginya kami mengunjungi Haeundae Beach. Setau gw, ini pantai selalu ramai dikunjungi orang untuk berjemur dan bermain olahraga pantai. Tapi ternyata gw salah, musim gugur sepiiii….yang ada Cuma burung-burung . Ya eyalah, udaranya dingin gitu, mana ada yang mau berjemur hahaha. Tapi setidaknya cuacanya lumayan buat bermain-main sejenak di tepi pantai. Suejukk  Hari ini kami akan kembali ke Seoul pada jam empat sore, pake bus gratis lagi pastinya ya. Jadi kami punya cukup waktu untuk keliling Busan sampai sore.

atas: Haeundae Beach di musim gugur, bawah: di depan Busan Aquarium

atas: Haeundae Beach di musim gugur, bawah: di depan Busan Aquarium

Di samping Haeundae Beach terdapat Busan Aquarium. Semacam SEA Worldnya Busan. Tapi berhubung tiketnya rada mahal, dan gw juga rada males ngeluarin duit buat nonton binatang, jadi kami tidak masuk kesana. Hanya berfoto di depan tulisannya hehehe. Dari Busan Aquarium, kami menuju Haeundae Subway St sembari berfoto-foto di jalanan. Banyak loh patung-patung unik yang bisa dijadikan teman berfoto di sepanjang jalanan Busan.

objek2 poto yg lucu sepanjang jalan

objek2 poto yg lucu sepanjang jalan

Jagalchi Fish Market & BIFF Square

Kami turun di Jagalchi St dan mengikuti petunjuk jalan menuju Jagalchi Fish Market, salah satu pasar ikan terbesar di Korea. Berbagai macam isi laut tumpah ruah di pasar ini. Dari rumput laut, penyu, gurita, ikan kecil sampai ikan yang gede banget juga ada, kepalanya doank sih gw liatnya hehehe. Disini, pengunjung juga bisa beli ikan untuk dimasak dan makan di tempat. Lebih segar pastinya  Kami tidak membeli ikan atau makan disana, karena kantong sudah menipis hehe. Cukup berkeliling sambil berfoto.

Jagalchi Fish Market

Jagalchi Fish Market

Puas berkeliling, kami berjalan menyebrangi area Jagalchi Market menuju BIFF Square, tempat perhelatan Busan International Film Festival. Dulu namanya PIFF Square, saat Busan masih disebut Pusan. Disini terdapat walk of fame berisi cap tangan artis dunia macam yang ada di Hollywood sono. Di BIFF square ini juga terdapat berbagai macam toko yang menjual barang unik. Lumayan buat cuci mata sekalian belanja oleh-oleh.

BIFF Square

BIFF Square

Busan Tower & Yongdusan Park

Selanjutnya, kami menuju Busan Tower yang berada di area Yongdusan Park. Ga jauh kok dari BIFF Square, jadi bisa ditempuh dengan berjalan kaki santai. Di Yongdusan Park ini ditanami berbagai macam pohon yang mengeluarkan warna-warni yang indah saat musim gugur, ada pohon sakura juga loh  Di lantai dasar Busan Tower, di sekitar loket penjualan tiket masuk tower, terdapat banyak kursi gratis yang bisa kita gunakan untuk duduk-duduk santai sambil melihat pemandangan kota Busan dari ketinggian. Asik banget buat yang pengen ngegalau hehehe. Oiya, di Busan Tower ini juga ada Locks of Love, persis seperti yang di N Seoul Tower, hanya saja gemboknya lebih sedikit dibandingkan yang ada di Seoul.

Di jalan keluar dari Busan Tower, sepanjang taman dipenuhi kumpulan kakek-kakek yang berkelompok sambil bermain board game. Asik ya, biar udah tua tapi masi bisa kongkow rame-rame.

Busan Tower & Yongdusan Park

Busan Tower & Yongdusan Park

Selesai dari Busan Tower, kami menuju Paradise Hotel, boarding point shuttle bus yang akan membawa kami kembali ke Seoul hari itu.

Shuttle bus berangkat on time jam empat sore, dan sempat berhenti sebentar di rest area. Jalanan dari Busan sampai dengan Korea ini cukup sepi dan mulus, plus didukung shuttle bus yang nyaman sekali, jadilah kami tidur sepanjang perjalanan. Maklum ya, capeee kitaah jalan kaki keliling Busan 

Gwanghamun Square, King Sejong & Admiral Yi Memorial Hall

Kami sampai kembali di Seoul pada jam sepuluh malam dan turun di dekat Gwanghamun Square. Berhubung belum pernah foto di taman yang super luas ini, maka berfoto lah kami di depan patung Admiral Yi Sun-Sin, Laksamana yang terkenal akan perannya dalam memimpin angkatan laut Korea. Berjalan sedikit ke belakang patung Admiral Yi, terdapat juga patung King Sejong, salah satu Raja Korea yang juga merupakan penemu karakter Hangul, yaitu karakter huruf yang digunakan oleh masyarakat Korea hingga sekarang. King Sejong juga banyak memberi kontribusi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, budaya serta astronomi. Di patung King Sejong ini, kita juga bisa melihat karakter Hangul jadul yang sudah tidak dipergunakan lagi saat ini. Bentuknya mirip-mirip morse 

Gwanghamun Square & karakter Hangul jadul

Gwanghamun Square & karakter Hangul jadul

Saat mengelilingi patung King Sejong, gw liat ada pintu masuk ke area bawah patung. Ternyata yaaa..di bawah patung ada museumnya yang masih buka sampai malam. FREE pula!! Hahahaha…gini nih kalo jalan-jalan minim info. Serba kebetulan

Kami masuk ke dalam area museum yang ternyata sangat luas sekali. Mungkin seluas Gwanghamun Squarenya, karena museum ini menyimpan benda-benda bersejarah dari kedua patung yang dipajang di Gwanghamun Square itu, King Sejong dan Admiral Yi. Di museum ini, kita bisa melihat replica Kapal Kura-Kura yang digunakan Admiral Yi selama bertempur di lautan. Ada juga video room yang menceritakan sejarah pertempuran yang dilakukan Admiral Yi. Di sisi lainnya, kita bisa melihat evolusi bentuk karakter Hangul hingga akhirnya sampai seperti yang digunakan sekarang. Jadi yang berkesempatan mengunjungi Gwanghamun Square ini, jangan lewatkan mengunjungi museumnya yah. Terutama yang narsis, banyak spot foto yang keren soalnya di dalem hehehe.

Atas: Replika Kapal Kura2 yang digunakan Admiral Yi, Bawah: perlengkapan perang yang digunakan

Atas: Replika Kapal Kura2 yang digunakan Admiral Yi, Bawah: perlengkapan perang yang digunakan

King Sejong Memorial Hall

King Sejong Memorial Hall

Day 5, 18 November 2011

Nami Island

Hari ini kami berencana mengunjungi Nami Island, tempat shootingnya Winter Sonata yang tersohor itu. Kalau sekarang sih udah banyak film yang ambil lokasi syuting disana ya, jadi bukan semata-mata “Tempat Shooting Winson” lagi . Untuk mengunjungi Nami Island terdapat shuttle bus khusus untuk mengangkut pengunjung yang berangkat dari Seoul. Shuttle bus ini bisa dibooking maksimal satu bulan sebelum hari H. Ini sebenarnya cara yang paling mudah untuk mengunjungi Nami Island, karena kita tinggal menunggu bus di Pagoda Park dan membayar ticketnya. Ticketnya pun ada yang paket round trip sekaligus tiket ferynya, jadi ga perlu pusing lagi. Namun karena gw pengen sampai di Nami sebelum rombongan turis lain datang, jadi kami tidak menggunakan shuttle bus. Kami naik subway hingga ke Sangbong St (Olive Green Line). Dari situ, kami melanjutkan naik kereta antar kota menuju Gapyeong St. Petunjuk arah di sepanjang jalan menuju Gapyeong cukup mudah dipahami. Mungkin karena ini termasuk rute yang paling laris dilewati turis ya. Sampai di Gapyeong St, kami naik bus dari depan stasiun menuju Gapyeong Wharf, tempat boarding kapal fery yang akan menyeberangkan kami ke Nami Island.

Atas: Gapyeong St & Bus yg membawa kami ke Gapyeong Wharf. Tengah: Immigration & Entry Visa. Bawah: Rombongan Fery kami saat di kapal & saat masuk Nami

Atas: Gapyeong St & Bus yg membawa kami ke Gapyeong Wharf. Tengah: Immigration & Entry Visa. Bawah: Rombongan Fery kami saat di kapal & saat masuk Nami

Harga tiket PP ke Nami saat itu KRW 8000, sudah termasuk tiket Fery. Gerbangnya memang bertuliskan ‘Immigration’, tapi jangan khawatir, karena masuk ke Naminara Republic ini tidak perlu visa lagi. Cukup beli tiketnya yang bertuliskan ‘Entry Visa’.

Waktu kami sampai di Nami masi belum terlalu ramai, tapi karena Fery yang kami tumpangi ukurannya cukup besar, jadi rombongan yang diangkut pun cukup banyak dan langsung meramaikan Nami sesampainya kami disana  Banyaaaak banget spot foto yang bagus di Nami ini, apalagi kami datang saat musim gugur pas dedaunan berwarna warni berguguran, jadi tanah di Nami dipenuhi daun berwarna warni. Sayangnya, berhubung cuma kesana berdua, jadi ga bisa foto berdua di spot yang gw pengenin, salah satu musti motoin hihihi. Kita cuma berbekal tripod gurita. Bisa dililitin di ranting pohon sih, cuma spot yang bagus ga ada ranting pohonnya, adanya pohon dengan batang yang guedhe, jadi ga bisa dililitin tripod.

Kiri: spot foto yang dipengenin. Kanan: spot foto yang terjangkau tripod :p

Kiri: spot foto yang dipengenin. Kanan: spot foto yang terjangkau tripod :p

Beberapa spot foto di Nami

Beberapa spot foto di Nami

Oiya kalau berkunjung ke Nami Island, cobain naik sepeda disini, jadi bisa puas keliling sampai ke pinggiran pulau. Karena luasnya mirip-mirip Gili Trawangan, jadi pegel juga kalo jalan kaki keliling. Jenis sepeda disini bermacam-macam. Semakin nyaman, semakin mahal hehehe…jadi kalo nyewa yang ada mesinnya (yang ga pake genjot) ya mahal. Kami menyewa jenis sepeda tandem, jadi kalo gw males genjot, cukup suami  aja yang genjot 

Macam2 Nami Bike's

Macam2 Nami Bike’s

Kalau lapar, di nami tersebar berbagai warung makan dan resto, tinggal pilih yang sekiranya halal. Ada petunjuk ke musholanya juga loh disini, hanya saja waktu itu kita ga nyariin, soalnya belom masuk waktu sholat saat kami disana. Di Nami juga terdapat beberapa jenis hewan yang memang dibiarkan bebas berkeliaran, seperti tupai, bebek, kelinci, dan beberapa jenis burung. Jadi jangan kaget kalo lagi jalan-jalan di Nami tiba-tiba ada tupai loncat  Di warung tempat kami makan juga sempat ada burung unta yang nyamperin pengunjung yang sedang makan.

Nanta Show & Hangang River Cruise

Puas berkeliling Nami, kami kembali ke Seoul melalui jalur yang sama saat berangkat. Di Seoul, kami turun di Myeongdong St, karena kami berencana menonton Nanta Show (Cookin Nanta). Gw baca review dari beberapa turis, Nanta Show ini merupakan pertunjukan komedi non verbal yang cukup recommended untuk ditonton apabila kita mengunjungi Korea Selatan.

Beberapa hari sebelumnya kami sudah mengunjungi area Myeongdong, dan gw sudah menemukan tempat pertunjukan dan pembelian tiket Nanta Show ini, sehingga kami tidak perlu pusing mencari lagi. Harga tiketnya bervariasi, tergantung posisi duduk yang kita pilih. Kami memilih tempat duduk yang paling murah seharga KRW 40.000 (sekitar Rp 320.000,-). Kalo dikurskan emang jatuhnya rada mahal untuk turis model backpacker, tapi show ini memang udah masuk dalam list target kami, jadi udah masuk budget plan hohohoho…

Ga bole foto2 di dalem, jadi foto2 di luar aja kitanya

Ga bole foto2 di dalem, jadi foto2 di luar aja kitanya

Nanta Show ini menggabungkan atraksi akrobat, komedi, permainan ekspresi dan partisipasi dari penonton. Alat-alat yang digunakan adalah peralatan dapur macam panci, mangkok, pisau, talenan, kompor, dll. Seperti menonton konser musik dan lawak yang musiknya dihasilkan dari permainan alat-alat dapur. Pemain Nanta Show dibagi menjadi beberapa tim, dimana setiap tim terdiri dari lima aktor yang memerankan Manager, Keponakan Manager, 2 Koki laki-laki, dan 1 Koki perempuan. Penonton pun bisa ikut memainkan peran di panggung apabila terpilih, karena ada scene dimana ketiga koki masing-masing menggunakan asisten untuk membantu menyiapkan masakan dan pemeran asisten ini dipilih dari penonton.

Selesai menonton Nanta Show, kami menyempatkan membeli jajanan di sekitar area Myeongdong (lagi) sekalian mengisi perut. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Sungai Han, sungai besar yang membelah kota Seoul, lebarnya sekitar 1Km boo….Sungai ini banyak digunakan di shooting film korea maupun video klip musik. Salah satunya di film Seducing Mr Perfect, waktu si boss ngajak asistennya rehat sebentar di saat jam kantor buat ngilangin stress. Mereka naik ferry dan berkeliling di Sungai Han ini. Asik yaaa, pulang ngantor bisa ngelayap keliling sungai naik kapal fery hahahaha. Di video klip Gangnam Stylenya Psy juga ada scene yang diambil di sungai ini loh, ya itu pas Psy naik motor boat sambil joget-joget gangnam style 😀 Kita juga bisa mencoba menaiki Ferry Cruise macam di film itu. Ferry ini memang disediakan khusus untuk membawa pengunjung berkeliling Sungai Han, melewati beberapa jembatan besar di Seoul. Kalau kelilingnya pas malam lebih bagus, karena lampu-lampu kota dan jembatan sudah dihidupkan, jadi lebih romantis pemandangannya xixixixi. Untuk menaiki Ferry ini, terdapat tiga dock yaitu di Yeouido, Jamsil dan Ttukseom. Kami naik dari Yeouido Dock. Walaupun namanya Yeouido, bukan berarti turun subwaynya di Yeouido St ya, karena terlalu jauh kalau turun dari stasiun itu. Untuk naik dari dock ini, turun subwaynya di Yeouinaru St (Purple Line) kemudian keluar dari Exit 5, dari situ tinggal jalan ke Pier A untuk membeli tiket Ferry. Jenis ferry yang terdapat di Yeouido ini bervariasi dan harganya pun bervariasi. Tetapi waktu kami datang, hanya tinggal satu jenis ferry yang masih beroperasi yaitu Live Concert Cruise seharga KRW 15.000 (sekitar Rp 120.000,-).

Atas: tempat boarding Hangang River Cruise & Lantai atas kapal, Tengah: pemandangan Seoul dari kapal, Bawah: Area Indoor

Kapalnya terdiri dari dua tingkat, tingkat bawah merupakan indoor area dimana kita bisa menikmati pemandangan Sungai Han dan Kota Seoul melalui kaca ruangan. Di area ini juga terdapat panggung yang menampilkan live music. Waktu itu yang tampil adalah seorang penyanyi pria dengan gitar akustiknya, gw ga tau namanya karena perkenalannya pake bahasa korea hehehe, yang jelas lagu yang dibawakan enak banget buat ngelamun, mendayu-dayu gemana gitu . Di lantai atas merupakan area outdoor, disini kita bisa menikmati pemandangan sambil duduk-duduk di pinggir dek kapal sembari diterpa angin sepoi-sepoi. Sayang waktu itu cuaca sedang hujan, jadi rada susah ambil foto pemandangan kota dari dek kapal, takut kamera gw rusak hihihi…

Buat gw, harga yang ditawarkan Hangang River Cruise ini lumayan mahal mengingat rutenya cukup singkat. Jadi kalo ga terlalu pengen dan budget juga terbatas, mending menikmati tamannya aja. Di sepanjang pinggiran Sungai Han ini terdapat  taman yang cukup besar yang biasa digunakan masyarakat sekitar untuk berkumpul, bersantai dan berolahraga ringan. Dari sini kita juga bisa lihat pemandangan Kota Seoul di malam hari. Cuma karena waktu kami datang kesana udah malem, jadi udah lumayan sepi tamannya.

Day 6, 19 November 2011

Gyeongbokgung Palace

Hari terakhir di Korsel kami mengunjungi Gyeongbokgung Palace, istana terbesar di Seoul yang terletak persis di depan Gwanghamun Square. Kami berangkat pagi-pagi karena gw pengen liat pergantian penjaga istana yang katanya Cuma ada pas pagi sama sore. Sampai disana sudah ramai pengunjung yang datang walaupun masih pagi, kemungkinan sama seperti gw ya, nunggu pergantian penjaga. Istana ini merupakan peninggalan raja terdahulu yang memang terus dirawat oleh pemerintah Korsel, jadi tidak benar-benar ditinggali oleh keluarga kerajaan ya, karena Korsel juga udah ga berbentuk kerajaan lagi sekarang.

Istana Gyeongbokgung ini dijaga puluhan pengawal dengan ekspresi dingin yang berdiri baik di sisi luar maupun dalam pintu gerbang. Masing-masing penjaga membawa senjata dan sebagian membawa bendera. Kita boleh lo ambil foto bareng mereka, Cuma merekanya ga ikut berpose ya, karena sepanjang tugas jaga mereka harus terus diam dan berikap siaga. Garuk-garuk aja kayanya ga boleh hehehe. Sekitar jam Sembilan, ada komando dari pengawal di dalam gerbang yang disambut pimpinan pengawal yang berjaga di depan gerbang pertanda pergantian tugas akan segera dimulai. Pengunjung yang sedang berfoto bersama pengawal bubar semua termasuk gw hahaha…

Gyeongbokgung Palace

Gyeongbokgung Palace

Pergantian ini cukup lama prosesinya, sekitar lima belas menitan lah. Karena selain pergantian pengawal, ada juga penyerahan bendera, ada pula pasukan genderang yang mengiringi prosesi sampai semua pasukan shift selanjutnya menempati posisi.

Untuk masuk ke dalam istana ini tidak gratis, jadi kita harus membeli tiket masuk terlebih dahulu seharga KRW 3000. Beruntung kami bisa mengunjungi istana ini saat musim gugur, karena di musim gugur pohon-pohon di dalam istana yang biasanya berwarna hijau mulai memerah dan menguning. Jadi warnanya pas bagus bagus bangeeeeettt…

Pohon di halaman istana. Merahnya okee

Pohon di halaman istana. Merahnya okee

Kalau sempat mengunjungi istana ini jangan lewatkan mencoba Hanbok, pakaian tradisional Korea Selatan. Gratis kok, cuma kalau lagi rame biasanya antri. Kalau malas antri, bisa juga berfoto di triplek berlukiskan orang yang memakai hanbok, tinggal pasang muka kita disitu, trus jepret deh 

Free Trial Hanbok

Free Trial Hanbok

Melihat istana Gyeongbokgung dari dekat membuat gw membayangkan bagaimana kehidupan keluarga kerajaan yang pernah tinggal di istana ini di masa lalu. Well…gw mbayanginnya berdasar film Dae Jang Geum sih, tapi harusnya kurang lebih gitu kan  Korea Selatan beruntung memiliki warisan sejarah seperti ini yang sampai sekarang masih terus dilestarikan oleh pemerintahnya. Sehingga meskipun telah berbentuk republik, masyarakat masa kini masih bisa duduk-duduk di halaman istana masa lalu sembari mengenang kejayaan kerajaan terdahulu.

Insa-dong

Keluar dari Gyeongbokgung Palace, kami mengunjungi Insa-dong untuk berbelanja oleh-oleh dan berkuliner ria. Iya, soalnya malamnya kami musti kembali ke Jakarta, dan kami memang sengaja mau hunting oleh-oleh di hari terakhir supaya ga terlalu kalap. Kalo hunting di awal takut kalap, takut ntar duitnya abis duluan hehehe.

Kalau berbelanja di Insa-dong, jangan takut menawar, tawar aja semurah-murahnya. Sejauh pengalaman gw berbelanja disana, dapet harga murah ga susah susah amat. Malah banyak penjual yang tau tau nuruinin harganya secara drastis, jadinya gw terpaksa beli. Padahal tadinya Cuma iseng nawar murah, eh malah dikasi, trus dikasi bonus pula . Nah ini yang paling nyenengin selama belanja barang-barang di Korea. Setiap beli barang pasti adaaa aja bonusnya. Dan ga tanggung-tanggung, bonusnya bisa tiga sampe empat item loh. Misal gw beli syal, karena diskonnya banyak, gw beli tiga, eh dikasi asesori sama yang jual. Di Etude House, gw iseng beli BB cream buat kakak gw, eh dibonusin serum, nail polish sama mini parfum. Mantab kan 

Kiri atas: Gerbang masuk Insadong, Kanan Atas: Samgyetang, Kanan Bawah: Pajeon, Kiri Bawah: Bibimbap

Kiri atas: Gerbang masuk Insadong, Kanan Atas: Samgyetang, Kanan Bawah: Pajeon, Kiri Bawah: Bibimbap

Makan siang di Insa-dong, kami mencari warung makan yang menyediakan makanan khas Korea Selatan. Gw memesan Samgyetang (sup ayam ginseng). Samgyetang ini merupakan makanan tradisional korea yang banyak khasiatnya. Udah jauh-jauh sampe negeri ginseng bo, masa iya gw lewatin masakan berginsengnya  Orang Korea biasanya memakan samgyetang ini di musim panas, untuk menjaga tubuh tidak lemas kehabisan energi karena banyak mengeluarkan keringat. Isi supnya antara lain ayam utuh, beras ketan, berbagai racikan bumbu dan ginseng. Suami gw memesan Bibimbap. Kalo yang ini udah familiar pastinya kan, karena Bibimbap ini makanan Korea yang paling sering muncul di drama-drama Korea. Bentuknya seperti nasi campur, karena kata bibimbap sendiri memang artinya ‘nasi campur’  Isinya biasanya terdiri dari nasi yang dicampur berbagai macam sayuran, daging sapi, telur dan saus pedas.

Satu lagi yang kita pesan adalah Pajeon. Pajeon ini katanya sih pancake seafood khas Korea, Cuma kalo gw liat lebih mirip martabak kalo di Indonesia. Ada semacam cukanya juga. Rasanya? Yaaa lumayan lah kalo buat snack. Kalo buat makan berat mah eneg, bertepung-tepung soalnya 

Malamnya kami berangkat ke Airport untuk kembali ke Jakarta. Flightnya masih tengah malem sebenernya, cuma berhubung bawaan sudah menumpuk dan kami pun sudah cukup lelah maka kami memutuskan untuk langsung ke Airport dan menunggu waktu pulang sambil cari-cari tempat istirahat di Airport. Sebenernya sebagian besar stasiun subway menyediakan loker penyimpanan sih, bahkan ada layanan transfer ke stasiun tujuan kita, Cuma sayang aja duitnya  kalo nitip cuma sebentar 

Perjalanan ke Jakarta sempet transit beberapa jam di KL. Kelamaan nunggu di airport KL sampe mati gaya, akhirnya kami memutuskan untuk keluar airport dan mengunjungi Petronas. Lumayan lah daripada bengong di airport. Lagian rasanya masi belom pengen pulaaaang, masi pengen jalan jalaaan 

Nah selesai deh cerita jalan-jalan kita ke Korea. Doain gw ya, mudah2an bisa dapet rejeki dan kesempatan untuk mengunjungi negara tetangganya juga, biar gw bisa share cerita2 lagi xixixixi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s